China Pangkas Impor Minyak Dan Gas, Krisis Teluk Persia Mengguncang Pasokan Nasional

China tercatat mengurangi impor minyak mentah dan gas alam pada periode terakhir karena gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia. Data administrasi bea cukai China yang dirilis Selasa menunjukkan pembelian minyak mentah turun 2,8 persen secara tahunan menjadi 49,982 juta ton, sementara impor gas alam merosot 11 persen menjadi 8,183 juta ton.

Pelemahan itu terjadi di tengah terganggunya jalur pengiriman utama, terutama setelah jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz mengalami hambatan serius akibat eskalasi konflik militer. Situasi ini menekan kinerja rantai pasok energi China, baik untuk kebutuhan kilang besar maupun pabrik pengolahan yang lebih kecil.

Gangguan di Selat Hormuz memukul arus energi

Selat Hormuz memegang peran penting dalam arus ekspor energi dari Timur Tengah ke Asia. Saat jalur ini terganggu, pengiriman minyak dari negara pemasok utama seperti Arab Saudi dan Irak ikut melambat.

Kondisi tersebut memaksa sejumlah kilang di China menyesuaikan jadwal penerimaan kargo. Tekanan juga terasa pada kilang independen kecil yang selama ini mengandalkan minyak mentah murah dari Iran untuk menjaga margin usaha.

Dampak ke impor LNG dan pasokan domestik

Penurunan tidak hanya terlihat pada minyak mentah, tetapi juga pada gas alam cair atau LNG. Data pelacakan kapal menunjukkan impor LNG China anjlok 22 persen secara tahunan menjadi 3,74 juta ton pada periode yang sama.

Meski begitu, pasokan gas China masih memiliki penyangga dari jalur darat. Hampir separuh pasokan gas negeri itu dikirim melalui pipa dari Rusia, Asia Tengah, dan Myanmar, namun kapasitas jalur tersebut disebut sudah mendekati batas maksimum.

Langkah Beijing menjaga cadangan energi

Di tengah tekanan pasokan, Beijing memperkuat langkah pengamanan stok energi nasional. Pemerintah China juga memangkas ekspor produk minyak sebesar 12 persen menjadi 4,601 juta ton agar cadangan domestik tetap terjaga.

Selain itu, otoritas energi disebut memberikan instruksi kepada kilang milik negara untuk mulai memanfaatkan cadangan komersial sebagai langkah mitigasi. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin menjaga stabilitas pasokan di dalam negeri meski kondisi pasar global sedang terganggu.

Fakta utama yang memengaruhi penurunan impor China

  1. Pembelian minyak mentah turun 2,8 persen menjadi 49,982 juta ton.
  2. Impor gas alam turun 11 persen menjadi 8,183 juta ton.
  3. Impor LNG merosot 22 persen menjadi 3,74 juta ton.
  4. Ekspor produk minyak China dipangkas 12 persen menjadi 4,601 juta ton.
  5. Impor kumulatif minyak sepanjang tahun masih naik 8,9 persen karena penguatan cadangan nasional.

Kinerja kilang dan prospek pasokan

Gangguan pasokan ini membuat kilang-kilang besar harus lebih selektif mengatur arus masuk bahan baku. Dalam jangka pendek, prioritas utama mereka adalah menjaga operasi tetap berjalan sambil mengamankan stok yang tersedia.

Di sisi lain, pemulihan pasokan gas laut diperkirakan tidak berlangsung cepat. Fasilitas ekspor di Qatar disebut memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pulih, sementara jalur pipa darat China sudah beroperasi penuh sehingga ruang tambahan untuk menutup kekurangan dari Laut dan Teluk Persia sangat terbatas.

Tekanan pasokan energi dari Teluk Persia juga menambah ketidakpastian bagi pasar impor China yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas jalur laut. Selama konflik dan gangguan pengiriman belum mereda, kebijakan pembatasan impor dan penguatan cadangan diperkirakan tetap menjadi pilihan utama Beijing untuk menjaga keamanan energi nasional.

Berita Terkait

Back to top button