Paylater Tumbuh 86,7 Persen, Kredit Macet Tembus 5,06 Persen di Februari 2026

Author: Qoo Media

Layanan buy now pay later atau paylater mencatat pertumbuhan pesat pada Februari 2026, dengan outstanding mencapai Rp 56,3 triliun atau naik 86,7 persen. Di saat yang sama, rasio kredit macet ikut membengkak ke level 5,06 persen, menandakan tantangan kualitas pembiayaan di tengah ekspansi yang sangat cepat.

Data PT Pefindo Biro Kredit atau IdScore menunjukkan jumlah debitur paylater sudah menembus 26,2 juta orang. Angka itu memperlihatkan penetrasi layanan kredit konsumtif digital yang makin luas, tetapi juga menambah perhatian terhadap kemampuan bayar para pengguna.

Pertumbuhan yang melampaui kredit konvensional

Direktur Utama IdScore Tan Glant Saputrahadi menilai ekspansi pembiayaan paylater tumbuh jauh lebih masif dibandingkan instrumen kredit konvensional lain. Ia menyampaikan hal itu dalam media gathering pada Selasa (28/4/2026), sambil menyoroti bahwa pertumbuhan cepat tersebut belum diimbangi kualitas aset yang sepenuhnya sehat.

Bank umum masih menjadi penyalur terbesar dalam segmen ini dengan nilai Rp 18,9 triliun. Di sisi lain, industri fintech peer-to-peer lending juga ikut mendorong pelebaran akses paylater di masyarakat.

Glant menegaskan bahwa tingginya rasio kredit bermasalah menunjukkan perlunya penguatan prinsip responsible lending. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan data yang lebih presisi dan edukasi keuangan agar ekspansi tidak berubah menjadi beban risiko dalam jangka panjang.

Rasio macet masih bertahan di level tinggi

Riwayat kredit macet paylater memperlihatkan pola yang belum stabil sejak 2023, ketika NPL berada di 5,31 persen. Angka itu sempat mereda pada 2024, namun kemudian kembali naik dan diproyeksikan terus menanjak sepanjang tahun ini.

Glant menyebut pihaknya berharap rasio itu bisa dijaga mendekati level 2023. Namun, ia menilai tekanan pada kualitas pembiayaan masih sulit dihindari dan berpotensi berlanjut setidaknya sampai bulan ke-9.

Kondisi ini menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah pengguna tidak otomatis menghasilkan portofolio yang aman. Dalam segmen paylater, kenaikan volume transaksi justru dapat memperbesar risiko jika manajemen kredit tidak berjalan hati-hati.

Banyak akun, risiko makin besar

Salah satu masalah yang ikut mendorong risiko adalah kebiasaan sebagian debitur memiliki banyak fasilitas kredit sekaligus. Rata-rata satu debitur tercatat memegang tujuh fasilitas kredit aktif pada saat yang sama.

IdScore bahkan menemukan kasus ekstrem dengan satu individu yang menguasai lebih dari 1.000 fasilitas pinjaman. Temuan ini menunjukkan adanya potensi overleverage yang tinggi bila akses kredit diberikan tanpa pengawasan memadai.

Menurut Glant, fakta tersebut menjadi gambaran bahwa ekosistem kredit digital rentan terhadap penumpukan kewajiban. Risiko itu akan semakin besar ketika profil pengguna belum memiliki riwayat kredit formal yang kuat.

Faktor struktural yang menekan kualitas aset

IdScore mengidentifikasi enam faktor struktural yang ikut menjelaskan tingginya kredit macet di paylater. Salah satu yang paling menonjol adalah ketiadaan agunan, karena pembiayaan tanpa jaminan membuat disiplin bayar sangat bergantung pada perilaku nasabah.

Faktor lain datang dari karakter transaksi digital yang minim tatap muka. Proses yang serba cepat dapat menurunkan komitmen psikologis pengguna dalam memenuhi kewajiban pembayaran.

Sekitar 42 persen transaksi paylater juga digunakan untuk kebutuhan non-produktif, seperti fesyen dan makanan. Penggunaan untuk konsumsi harian atau gaya hidup ini membuat cicilan lebih mudah terakumulasi tanpa penambahan kemampuan bayar yang sepadan.

Profil pengguna pun menjadi sorotan karena mayoritas masuk kategori unbanked atau belum memiliki riwayat kredit formal. Dalam kelompok ini, risiko gagal bayar disebut bisa 2,3 kali lebih tinggi.

Tekanan daya beli ikut memperburuk kondisi

Glant juga menyoroti tekanan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Situasi tersebut membuat ruang pengeluaran rumah tangga semakin sempit, sementara kewajiban cicilan digital tetap berjalan.

Ia menambahkan bahwa biaya dana yang tinggi turut memberi tekanan pada industri pembiayaan. Kombinasi faktor makro dan perilaku pengguna membuat paylater berada dalam posisi yang sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Meski segmen paylater menghadapi kualitas aset yang menantang, total outstanding kredit nasional masih tumbuh positif di angka Rp 9.938,2 triliun. IdScore memperkirakan pertumbuhan kredit nasional tahun ini tetap stabil pada kisaran 10 hingga 11 persen.

“Kredit yang sehat adalah fondasi ekonomi yang kuat,” ujar Glant, seraya menekankan bahwa pertumbuhan kredit perlu berjalan seimbang dengan mitigasi risiko dan perlindungan data. Dalam konteks paylater, tantangan utama kini bukan hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga menjaga agar pertumbuhan tidak berubah menjadi gelombang kredit macet yang lebih besar.

Terbaru