Iran Klaim Kemajuan Signifikan dalam Negosiasi Nuklir dengan AS di Jenewa, Tapi Ancaman Militer AS Tetap Mengintai

Iran menyatakan kemajuan positif dalam pembicaraan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat yang berlangsung di Jenewa. Pembicaraan ini dimediasi oleh Oman dan berlangsung di tengah ketegangan militer yang meningkat di kawasan Teluk.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan setelah pertemuan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan prinsip yang dapat menjadi landasan untuk menyusun teks perjanjian. Ia menyebut kemajuan ini lebih baik dibandingkan putaran pembicaraan sebelumnya di Oman dan menyatakan jalur ke depan kini lebih jelas.

Perkembangan Negosiasi Nuklir

Araghchi mengatakan proses negosiasi masih panjang untuk menjembatani perbedaan antara Iran dan AS. Kedua negara akan saling bertukar rancangan teks perjanjian sebelum menentukan jadwal putaran ketiga pembicaraan.

Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menilai pembicaraan berjalan baik dalam beberapa hal, namun mengingatkan adanya batasan yang belum bisa diterima oleh Iran. Ia menegaskan bahwa Presiden AS masih menyisakan opsi lain jika diplomasi gagal.

Perselisihan dan Tantangan

Iran menuntut penghapusan sanksi berat yang diberlakukan AS, termasuk larangan pembelian minyaknya oleh negara lain. Fokus utama Iran adalah mempertahankan program pengayaan uranium sambil mendapatkan manfaat ekonomi nyata dari perjanjian.

Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan memperluas pembicaraan ke isu non-nuklir seperti persenjataan rudal. Iran menolak menghapus pengayaan uranium sepenuhnya dan menegaskan program misilnya bukan bahan negosiasi.

Situasi Ketegangan di Teluk

Saat pembicaraan berlangsung, AS menempatkan dua kapal induk dengan armada pesawat lengkap di sekitar Teluk. USS Abraham Lincoln ditempatkan kurang lebih 700 km dari pantai Iran, memberikan kemampuan serangan strategis lewat pesawat tempur F-35 dan F-18.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei memperingatkan potensi untuk menenggelamkan kapal perang AS. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menggelar latihan militer di Selat Hormuz, termasuk penutupan sementara sebagian jalur pelayaran strategis karena alasan keamanan.

Iran kerap mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai aksi balasan jika diserang. Jalur ini sangat vital untuk ekspor minyak global dan penutupan dapat mengganggu sekitar 20% suplai minyak dunia serta menaikkan harga minyak mentah.

Pandangan Ahli Mengenai Prospek Kesepakatan

Menurut Ali Vaez, Direktur Proyek Iran Crisis Group, peluang mencapai kesepakatan nuklir cukup besar karena program nuklir Iran sudah menurun akibat konflik. Iran diperkirakan lebih siap menerima penghentian pengayaan uranium dalam jangka waktu tertentu.

Namun, untuk isu selain nuklir seperti aktivitas regional dan program misil, Iran kemungkinan hanya akan memberikan konsesi yang terbatas dan tidak sampai pada kompromi besar seperti yang AS harapkan.

Pendekatan Iran terhadap Program Nuklir

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali bahwa negaranya tidak mencari senjata nuklir. Iran terbuka untuk verifikasi guna membuktikan niat damai tersebut.

Ia juga menolak larangan penggunaan ilmu nuklir untuk pengobatan, industri, dan pertanian, sesuai hak yang dijamin oleh Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang diikuti Iran. Perjanjian ini mengizinkan pengembangan tenaga nuklir sipil dengan syarat menolak senjata atom dan bekerja sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Sementara itu, Israel yang tidak menandatangani NPT, mempertahankan kebijakan ambiguitas soal kepemilikan senjata nuklir. Para ahli menilai Israel memang memiliki senjata nuklir sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman di sekitarnya.

Pembicaraan nuklir ini menunjukkan dinamika kompleks antara diplomasi dan tekanan militer di kawasan Timur Tengah. Keberhasilan atau kegagalan dialog ini akan menentukan arah stabilitas dan keamanan regional serta lanskap geopolitik global ke depan.

Terkait