Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan alasan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Rolliansyah Soemirat, tidak bisa masuk ke Grand Mosalla Teheran saat prosesi penghormatan terakhir terhadap mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia menyebut kendala itu muncul karena Iran baru mengonfirmasi aturan akses yang membatasi masuk ke area utama hanya untuk pejabat di atas tingkat dubes.
Sebelum informasi tersebut diterima, Indonesia sudah menetapkan Dubes RI di Teheran sebagai wakil resmi pemerintah dalam acara itu. Karena keputusan batas akses datang sangat dekat dengan pelaksanaan prosesi, pemerintah tidak punya cukup waktu untuk mengubah susunan delegasi.
Penjelasan Menlu soal akses di Grand Mosalla
Sugiono menyampaikan, pemerintah Indonesia menerima undangan untuk menghadiri upacara penghormatan terakhir tersebut. Pada saat yang sama, Indonesia menetapkan duta besar di Iran sebagai perwakilan resmi karena beberapa pejabat kunci sedang memiliki agenda kenegaraan di dalam negeri.
Ia mengatakan pertimbangan itu juga dipengaruhi situasi teknis di dalam negeri. Sejumlah pejabat negara sedang sibuk dengan persiapan kunjungan kenegaraan, sehingga pengiriman pejabat lain ke Iran tidak memungkinkan dilakukan dengan cepat.
“Kita juga sudah mengatakan bahwa yang mewakili Pemerintah Indonesia adalah duta besar Indonesia yang ada di Iran,” ujar Sugiono di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Alasan Dubes RI hanya berada di luar area utama
Momen Dubes RI berada di luar Grand Mosalla Teheran sempat menjadi sorotan setelah dokumentasi kehadirannya tersebar di publik. Dari gambar yang beredar, prosesi penghormatan berlangsung di dalam kompleks, sedangkan Dubes RI tampak berada di area luar.
Sugiono menegaskan, kondisi itu bukan karena Indonesia tidak mengirim wakil. Justru, perwakilan sudah ditetapkan sejak awal, tetapi aturan akses dari pihak Iran kemudian berubah untuk area inti prosesi.
Menurut Sugiono, pemerintah baru menerima konfirmasi dari Iran pada 2 Juli bahwa akses ke dalam Grand Mosalla hanya diberikan kepada tamu negara dengan tingkat jabatan di atas duta besar. Karena informasi itu datang mepet dengan pelaksanaan acara, Indonesia tidak sempat menyiapkan pengganti dengan level yang sesuai.
“Jadi kita juga tidak memiliki kesempatan untuk mengirimkan pengganti,” kata Sugiono.
Indonesia tetap siapkan kehadiran di prosesi pemakaman
Meski tidak dapat masuk ke upacara penghormatan terakhir, pemerintah Indonesia tetap berupaya hadir pada rangkaian prosesi pemakaman yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli. Kementerian Luar Negeri juga terus berkoordinasi dengan pemerintah Iran agar delegasi Indonesia bisa mengikuti agenda yang memungkinkan.
Sugiono menyebut pemerintah masih menunggu kepastian soal waktu dan lokasi pelaksanaan prosesi yang dapat dihadiri perwakilan Indonesia. Ia menekankan bahwa rangkaian acara pemakaman memiliki beberapa tahap, sehingga kehadiran delegasi harus menyesuaikan aturan dari negara tuan rumah.
“Kita berencana akan hadir. Ini kami masih menunggu jawaban waktu dan tempat di mana kita bisa menghadiri upacara pemakaman tersebut,” ujarnya.
Delegasi resmi yang disiapkan Indonesia
Sugiono memastikan Indonesia sudah menyiapkan perwakilan dengan tingkat jabatan yang sesuai apabila Iran memberikan konfirmasi lanjutan. Ia menyebut dirinya bersama Ketua MPR RI Ahmad Muzani direncanakan menjadi wakil resmi Indonesia dalam agenda pemakaman tersebut.
“Rencananya yang akan berangkat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia bersama dengan Ketua MPR RI,” kata Sugiono.
Pemerintah Indonesia kini menunggu informasi pasti dari otoritas Iran mengenai jadwal dan lokasi pemakaman agar kehadiran delegasi bisa menyesuaikan ketentuan yang berlaku. Sikap ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjaga kehadiran diplomatik, meski akses pada prosesi penghormatan sebelumnya dibatasi oleh aturan dari pihak tuan rumah.
Source: www.viva.co.id






