Perundingan Langsung AS-Iran di Islamabad, Pakistan Jadi Medan Uji Damai Timur Tengah

Pejabat Amerika Serikat dan Iran menggelar perundingan tatap muka di Pakistan pada Sabtu, dalam pembicaraan langsung paling signifikan sejak revolusi Islam 1979. Langkah ini terjadi saat kedua pihak berupaya mengakhiri perang yang telah mengguncang Timur Tengah dan menekan perekonomian dunia.

Perundingan berlangsung di Islamabad dengan Pakistan bertindak sebagai tuan rumah dan mediator, menurut seorang pejabat senior Gedung Putih. Ini menjadi perubahan besar dari pola pembicaraan sebelumnya, ketika kedua pihak hanya bernegosiasi melalui mediator dan tetap berada di ruangan terpisah.

Perundingan langsung tingkat tinggi di Islamabad

Delegasi Amerika dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump. Kehadiran tiga tokoh itu menandai level kontak tertinggi Washington dengan Teheran sejak berdirinya Republik Islam.

Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Menurut laporan media Iran, rombongan itu berjumlah lebih dari 70 orang dan lebih dulu bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebelum memulai pembicaraan dengan pihak AS.

Kantor Sharif menyatakan ia memuji komitmen kedua delegasi untuk berunding secara konstruktif. Kantor itu juga menyebut harapannya agar pembicaraan di Islamabad menjadi batu loncatan menuju perdamaian yang berkelanjutan di kawasan.

Isu utama: senjata nuklir, aset Iran, dan keamanan regional

Pembicaraan di Pakistan tidak hanya membahas penghentian perang, tetapi juga isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan jangka panjang. Presiden Trump menegaskan prioritas utamanya adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, yang ia sebut sebagai “99 persen” dari keseluruhan persoalan.

Berikut isu-isu yang disebut dominan dalam perundingan tersebut:

  1. Status program nuklir Iran dan jaminan agar tidak berkembang menjadi senjata.
  2. Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk arus pelayaran normal.
  3. Pelepasan aset Iran yang terkena sanksi.
  4. Dampak konflik Israel-Hezbollah terhadap gencatan senjata yang lebih luas.

Iran sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup pencairan aset yang dibekukan dan penghentian perang Israel melawan Hezbollah di Lebanon. Namun, Vance menyebut isu terakhir itu tidak akan dibahas dalam pertemuan di Islamabad.

Selat Hormuz jadi titik tekan

Pembicaraan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dunia pada masa damai. Trump mengatakan Amerika Serikat telah mulai “membersihkan” jalur itu, sementara media AS melaporkan dua kapal perang Amerika melintas pada Sabtu.

Trump menyebut langkah itu sebagai “sebuah bantuan” bagi negara lain. Namun, seorang pejabat militer senior Iran yang dikutip televisi negara membantah laporan bahwa kapal AS benar-benar melintasi perairan kunci tersebut.

Selat Hormuz tetap menjadi kartu tawar penting dalam konflik ini karena setiap gangguan di jalur itu bisa memicu lonjakan harga energi global. Hal itu juga membuat perundingan di Pakistan diawasi ketat oleh pasar dan negara-negara besar yang bergantung pada stabilitas energi.

Pakistan berperan sebagai penghubung

Pakistan mengambil peran aktif untuk mempertemukan kedua pihak dalam negosiasi tatap muka. Sebuah sumber diplomatik mengatakan Islamabad telah menyiapkan tim ahli untuk membantu pembahasan soal navigasi, nuklir, dan isu-isu penting lain.

Sumber itu juga menyebut beberapa negara lain ikut memantau dan mendukung proses ini, termasuk Mesir, Turki, dan China. Koordinasi dengan para pemain regional itu disebut terus berjalan seiring Pakistan mencoba menjaga forum tetap terbuka.

Keamanan di ibu kota Pakistan diperketat selama pertemuan berlangsung. Polisi dan pasukan paramiliter disiagakan di jalan-jalan, dengan pembatasan lalu lintas di area “red zone” yang menjadi lokasi kantor pemerintah dan misi diplomatik.

Sikap saling curiga masih kuat

Meski pertemuan berlangsung langsung, kedua kubu belum menunjukkan tanda saling percaya. Ghalibaf mengatakan pengalaman Iran dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat selama ini sering berakhir gagal dan diwarnai janji yang dilanggar.

Vance sebelumnya mengatakan Washington siap mengulurkan tangan jika pihak lawan berunding dengan itikad baik. Namun, ia menambahkan timnya tidak akan menerima manuver yang dianggap hanya untuk mengulur waktu atau mempermainkan proses negosiasi.

Trita Parsi, wakil presiden eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, menilai besarnya delegasi Iran menunjukkan keseriusan Teheran. Menurut dia, ukuran rombongan, senioritas anggotanya, dan luasnya mandat yang dibawa memberi sinyal bahwa Iran ingin pulang dari Pakistan dengan sebuah kesepakatan.

Gencatan senjata masih rapuh

Perundingan juga berlangsung dalam situasi gencatan senjata yang rapuh. Israel terus melancarkan serangan di Lebanon, sementara Iran dan Pakistan menilai aksi itu masuk dalam cakupan gencatan senjata yang sedang dibahas.

Militer Israel menyatakan telah menyerang lebih dari 200 sasaran Hezbollah di Lebanon dalam 24 jam terakhir, termasuk peluncur roket. Di sisi lain, kepresidenan Lebanon mengatakan akan ada pertemuan dengan Israel di Washington pada pekan depan.

Sharif menilai tahap pembahasan di Islamabad tidak akan mudah. Ia mengatakan masih ada tahap yang jauh lebih sulit untuk mengakhiri pertempuran secara permanen, terutama setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu balasan dari Teheran terhadap Israel dan kawasan Teluk.

Presiden Pakistan itu menggambarkan fase tersebut sebagai momen “make or break”, yang menunjukkan besarnya risiko kegagalan bila kedua pihak tidak mencapai titik temu. Di Teheran, sebagian warga tetap skeptis, dengan seorang penduduk berusia 30 tahun mengatakan banyak pernyataan Trump hanya terdengar seperti “noise” dan “nonsense”.

Berita Terkait

Back to top button