
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan Islamabad tetap berkomitmen penuh untuk mendorong perdamaian dan keamanan di kawasan. Ia menyampaikan pesan itu kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon selama 45 menit, yang juga membahas situasi regional yang berkembang.
Sharif menekankan Pakistan ingin terus berperan sebagai fasilitator yang jujur dan tulus dalam upaya membangun stabilitas. Ia juga menilai komunikasi dengan sejumlah pihak kawasan menjadi bagian penting untuk menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.
Pembicaraan dengan Iran dan langkah diplomasi kawasan
Dalam percakapan itu, Sharif memuji sikap konstruktif pejabat Iran dalam pembicaraan dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir di Teheran. Menurut kantor perdana menteri Pakistan, kedua pemimpin membahas secara rinci kondisi terkini di kawasan yang masih dilanda ketegangan.
Sharif juga menjelaskan hasil pertemuannya dengan otoritas Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Ia menyebut rangkaian kontak itu membantu membangun konsensus untuk mendukung dialog dan diplomasi yang berkelanjutan demi perdamaian abadi.
Pemerintah Pakistan menempatkan pembicaraan lintas negara sebagai bagian dari dorongan untuk meredakan ketegangan. Langkah itu terlihat dari upaya Islamabad menjaga komunikasi dengan negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap dinamika regional.
Apresiasi Iran atas peran Islamabad
Sharif menyampaikan terima kasih kepada Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei dan Presiden Iran atas pengiriman delegasi tingkat tinggi ke Islamabad. Delegasi itu dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi untuk berbicara dengan para negosiator Amerika pada 11-12 April.
Pezeshkian membalas dengan apresiasi terhadap komitmen Pakistan dan Angkatan Darat Pakistan dalam mendukung upaya perdamaian. Presiden Iran itu juga menyerukan penguatan hubungan antara Teheran dan Islamabad agar kerja sama kedua negara tetap stabil.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga sempat bertukar pandangan lewat telepon dengan mitranya dari Pakistan, Muhammad Ishaq Dar. Percakapan itu menunjukkan jalur komunikasi diplomatik antara kedua negara masih terus berjalan di tengah situasi yang sensitif.
Pembicaraan Iran dan Amerika masih alot
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) sebelumnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan setelah AS menerima proposal 10 poin dari Iran. Namun, pembicaraan selama kurang lebih 21 jam di Islamabad pada 11 April tidak menghasilkan kesepakatan.
Pejabat Iran kemudian menyalahkan tuntutan berlebihan dan perubahan posisi dari pihak Amerika. Laporan media juga menyebut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran dan ancaman yang terus-menerus ikut menghambat kemajuan negosiasi.
IRNA menilai blokade angkatan laut itu merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata dan membuat upaya memajukan negosiasi semakin sulit. Tasnim juga melaporkan bahwa Iran tidak akan mengikuti putaran kedua pembicaraan dengan AS selama blokade tersebut masih berlangsung.
Perkembangan itu membuat peran Pakistan sebagai mediator kembali menjadi sorotan karena Islamabad berupaya menjaga ruang dialog tetap terbuka. Di tengah tekanan politik dan keamanan yang masih tinggi, komunikasi antara Pakistan, Iran, dan sejumlah negara kawasan menjadi faktor penting bagi kelanjutan proses diplomasi.
Source: www.viva.co.id








