
Badan Pengurus Daerah Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (BPD GINSI) Jawa Timur menyatakan optimistis tekanan akibat perang Amerika, Israel dengan Iran di Timur Tengah masih bisa diatasi dengan langkah yang tepat. Sikap itu muncul di tengah ketergantungan tinggi industri Jawa Timur pada bahan baku impor yang disebut masih berada di kisaran 79 hingga 80 persen.
Pernyataan tersebut disampaikan saat pelantikan pengurus BPD GINSI Jawa Timur periode 2026–2031 di Sheraton Surabaya, Kamis (9/4). GINSI menilai peran importir tetap penting untuk menjaga kelangsungan produksi, terutama ketika rantai pasok global menghadapi gangguan dari konflik geopolitik.
Ketergantungan Industri Jatim pada Impor Masih Tinggi
Hana Belladina, S.I.Kom., M.I.Kom., menyebut peran importir sangat vital bagi industri nasional, khususnya di Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa sebagian besar bahan baku industri di provinsi itu masih berasal dari luar negeri, sehingga kelancaran impor ikut menentukan stabilitas produksi.
Menurut Hana, kondisi tersebut membuat arus barang harus tetap dijaga agar aktivitas industri tidak terganggu. Ia juga menekankan pentingnya memastikan para pelaku impor tetap aman saat menghadapi situasi yang dapat memengaruhi distribusi dan pasokan.
Fokus GINSI Jatim pada Kelancaran Barang
Dalam agenda kepengurusan baru, GINSI Jatim menempatkan kelancaran arus barang sebagai prioritas utama. Organisasi ini ingin memastikan distribusi bahan baku dan barang impor tetap berjalan meski kondisi global masih berisiko.
Berikut fokus yang disorot dalam arah kerja GINSI Jatim:
- Menjaga arus barang agar tetap lancar.
- Memastikan kegiatan importir berlangsung aman.
- Menguatkan koordinasi dengan pemerintah.
- Mendorong solusi atas hambatan pasok yang muncul.
Langkah tersebut dinilai penting karena gangguan logistik di kawasan Timur Tengah dapat berimbas pada biaya dan waktu pengiriman. Di sisi lain, industri di Jawa Timur tetap membutuhkan pasokan bahan baku agar produksi berjalan stabil.
Subandi Dorong GINSI Jadi Organisasi Profesional
Ketua Umum DPP GINSI Capt. Subandi meminta pengurus GINSI Jatim menjalankan organisasi secara profesional dan transparan. Ia juga menekankan agar GINSI tidak hanya menjadi wadah anggota, tetapi mampu memberi solusi konkret terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Subandi menyoroti situasi geopolitik di Timur Tengah sebagai tantangan bersama yang perlu dihadapi dengan pendekatan yang terkoordinasi. Ia menilai GINSI harus aktif mencari penyelesaian bersama pemerintah agar masalah yang muncul di sektor impor tidak berkembang lebih jauh.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Dunia Usaha
Konflik di kawasan Timur Tengah kerap memicu kekhawatiran terhadap jalur pengiriman, harga logistik, dan kepastian suplai bahan baku. Bagi daerah seperti Jawa Timur yang bergantung besar pada impor, gangguan kecil saja bisa berdampak pada produksi industri dan jadwal distribusi.
Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha biasanya menunggu kepastian dari jalur perdagangan, kebijakan pemerintah, serta kemampuan asosiasi bisnis untuk menjaga komunikasi dengan pemangku kepentingan. Karena itu, optimisme GINSI Jatim dinilai penting agar dunia usaha tetap memiliki pegangan di tengah ketidakpastian global.
GINSI Jatim kini dihadapkan pada tugas menjaga kepercayaan anggota sekaligus membangun koordinasi yang efektif dengan pemerintah dan sektor industri. Dengan basis kebutuhan bahan baku impor yang masih dominan, upaya menjaga kelancaran pasok menjadi kunci agar kegiatan industri di Jawa Timur tetap berjalan di tengah tekanan perang Timur Tengah.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oceanweek.co.id








