KDM Tahan Status Darurat Sampah Bandung, Solusi Lapangan Didahulukan Sebelum Label Resmi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menolak tergesa-gesa menetapkan status darurat sampah untuk Kota Bandung. Ia menilai pemerintah harus lebih dulu memastikan langkah penanganan di lapangan berjalan, bukan hanya memberi label darurat yang berpotensi memicu kepanikan.

Usulan darurat sampah itu muncul setelah volume sampah di Kota Bandung melonjak usai libur panjang. Ketergantungan kota ini pada TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat juga ikut memperkuat alasan Pemkot Bandung mengajukan status tersebut.

Dedi menyoroti kondisi TPA Sarimukti yang semakin kritis. Ia menyebut kapasitas TPA regional itu diprediksi sudah penuh dalam hitungan bulan ke depan.

Sebagai antisipasi, Pemprov Jawa Barat menyiapkan sistem pengolahan sampah berbasis wilayah yang akan ditempatkan di tiap kelurahan. Dedi mengatakan alat itu sudah diuji coba dan mampu mengolah sampah hingga 5 ton per hari.

Menurut Dedi, hasil pengolahan itu bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri. Ia menyebut uji coba di Gedung Sate sudah berhasil dan hasilnya mulai dilirik sejumlah industri di Jawa Barat.

Pemprov Jabar juga berencana memperluas teknologi itu ke berbagai daerah, termasuk Kota Bandung. Namun, pembiayaannya tidak bisa ditanggung provinsi seorang diri sehingga perlu dibahas bersama wali kota.

“Status darurat sampah akan kita lihat dulu, jangan dibikin menjadi buru-buru darurat nanti orang panik,” kata Dedi saat diwawancarai di Bandung. Ia menegaskan yang lebih penting adalah memastikan langkah penanganan darurat berjalan efektif terlebih dahulu.

Di saat yang sama, pemberitaan di Jawa Barat hari ini juga diwarnai peristiwa lain di sejumlah daerah. Salah satunya aksi seorang pria bertubuh besar yang sempat membuat heboh warga di Jembatan Cirahong, perbatasan Ciamis dan Tasikmalaya.

Pria berinisial M berusia 30 tahun itu diduga hendak melompat dari jembatan dan berhasil diselamatkan warga. Kapolsek Manonjaya AKP Soni Alamsyah mengatakan pria itu bekerja sebagai penjual cilok, sudah berkeluarga, dan tinggal di sekitar Kecamatan Manonjaya.

Soni menyebut motif kejadian itu berkaitan dengan masalah ekonomi yang dipicu konsumsi alkohol. Ia menjelaskan M pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat, lalu bertengkar dengan istrinya dan merusak barang-barang di rumah sebelum pergi ke jembatan.

Warga yang melihat gelagat mencurigakan langsung bergerak cepat membantu evakuasi. Menurut keterangan warga, sekitar 10 orang ikut menahan dan mengamankan pria itu hingga tidak sempat melompat.

Korban Tertimpa Pohon di Jatinangor Meninggal Dunia

Korban tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Bandung-Cirebon, Desa Cikeruh, Jatinangor, Sumedang, akhirnya meninggal dunia. Korban bernama Reza Renaldi sempat dalam kondisi kritis dan mendapat perawatan di Rumah Sakit Unpad.

Kapolsek Jatinangor Kompol Rogers Thomas mengatakan Reza mengalami luka parah di bagian kepala dan pinggang. Pohon jenis flamboyan yang diduga rapuh itu tumbang dan menimpa lima pengendara motor.

Pihak Unpad juga menegaskan pohon tersebut bukan berada di tanah kampus. Humas Unpad Dandi Supriadi mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan warga sekitar untuk menebang pohon itu karena bagian bawahnya sudah berlubang dan dinilai membahayakan pengguna jalan.

Ikan Mati Massal di Karawang

Di Karawang, ratusan ikan ditemukan mati mengambang di perairan Tanggul Johar, Karawang Wetan. Warga menduga kuat aliran air sudah tercemar limbah, baik dari industri maupun aktivitas domestik.

DLH Karawang sudah turun ke lokasi dan mengambil sampel air serta ikan untuk diuji laboratorium. Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan Lingkungan DLH Karawang, Luky Matenra Dwiputra Romly, menyebut pH air pagi itu masih normal di angka 6,0.

Luky menduga pencemaran itu berasal dari wilayah Leuweung Seureuh, Kecamatan Klari. Ia juga menyebut ada kemungkinan limbah cair dibuang secara ilegal dari tangki mobil, bukan langsung dari pabrik.

DLH Karawang bersama Satgas Citarum Harum Sektor 10 kini memburu pelaku pembuangan limbah tersebut. Warga juga diimbau tidak mengonsumsi ikan-ikan yang mati itu karena dikhawatirkan terpapar zat berbahaya.

Farhan Emosi soal Kabel Udara Bandung

Di Kota Bandung, Wali Kota Muhammad Farhan meluapkan emosi saat meninjau pemotongan kabel udara di Jalan Merdeka. Ia kesal karena sejumlah perusahaan telekomunikasi belum siap mendukung proyek ducting atau penurunan kabel bawah tanah.

Farhan menyebut dari 39 perusahaan, baru 18 yang siap dan masih ada 21 yang belum siap. Ia menegaskan Pemkot Bandung tidak ingin pemotongan kabel dilakukan jika backup internet belum tersedia, karena layanan publik bisa terganggu.

Pemkot Bandung sebelumnya menargetkan pemotongan kabel di kawasan Asia Afrika hingga Jalan Sunda. Namun rencana itu dialihkan ke Jalan Merdeka setelah muncul kekhawatiran blackout internet yang bisa berdampak ke layanan perbankan dan proses SPMB 2026.

Farhan memberi tenggat hingga sore ini dan menegaskan penegakan aturan tetap penting. Ia menekankan proses pemotongan harus berjalan tanpa mengorbankan layanan publik.

Source: www.detik.com

Berita Terkait

Back to top button