Tanpa Migas, Bojonegoro Masih Menggenggam Rp9,93 Triliun Ekonomi Rakyat di Jatim

Tanpa minyak dan gas sekalipun, Bojonegoro tetap menunjukkan skala ekonomi yang besar di Jawa Timur. Pada Triwulan I 2026, nilai ekonomi riil daerah ini mencapai Rp17,08 triliun, dan lebih dari separuhnya justru datang dari aktivitas non-migas.

Fakta itu membuat Bojonegoro tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai daerah penghasil minyak. Ekonomi murni warga masih menembus Rp9,93 triliun dalam tiga bulan pertama 2026, atau sekitar 58 persen dari total ekonomi riil daerah.

Kuat di luar migas

Posisi tersebut menempatkan Bojonegoro di peringkat ke-12 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur untuk ekonomi non-migas. Angka itu memang turun dibanding saat migas masih ikut dihitung, tetapi tetap menegaskan bahwa basis ekonomi warga berjalan dalam skala besar.

Di wilayah barat Jawa Timur, hanya Tuban yang mencatat nilai ekonomi non-migas lebih tinggi. Bojonegoro masih berada di atas Lamongan, Nganjuk, dan Ngawi, sehingga posisinya tetap menonjol di kawasan Mataraman.

PDRB non-migas Bojonegoro pada Triwulan I 2026 tercatat Rp9.928,57 miliar. Tuban berada di angka Rp13.315,86 miliar, sedangkan Lamongan Rp8.779,07 miliar, Nganjuk Rp5.896,70 miliar, dan Ngawi Rp4.256,42 miliar.

Pertanian masih jadi penopang utama

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi tulang punggung terbesar ekonomi non-migas Bojonegoro. Kontribusinya mencapai 24,41 persen dengan nilai Rp2,42 triliun pada awal 2026.

Nilai itu menempatkan Bojonegoro dalam kelompok daerah kuat di sektor pangan Jawa Timur. Posisi ini sejajar dengan daerah pertanian besar lain seperti Banyuwangi, Jember, Malang, Tuban, dan Lamongan.

Jika dibandingkan dengan tetangga dekat, selisihnya juga tidak lebar. Tuban mencatat Rp2.578,48 miliar, Lamongan Rp2.452,73 miliar, Bojonegoro Rp2.423,52 miliar, Nganjuk Rp1.575,28 miliar, dan Ngawi Rp1.136,38 miliar.

Kepala BPS Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menegaskan pertanian adalah tulang punggung asli masyarakat. Menurut dia, uang dari sektor ini langsung mengalir ke warga desa dan menyerap tenaga kerja lebih besar dibanding industri minyak yang padat modal.

Pasar, digital, dan belanja pemerintah ikut menggerakkan ekonomi

Selain pertanian, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor juga memberi dorongan kuat. Sektor ini menyumbang 16,22 persen dengan nilai Rp1,61 triliun, yang menunjukkan aktivitas jual-beli di pasar lokal berlangsung ramai.

Kekuatan lain datang dari sektor informasi dan komunikasi. Porsi sektor digital itu mencapai 15,69 persen dengan nilai Rp1,56 triliun, dan Bojonegoro unggul atas daerah sekitar.

Dalam sektor informasi dan komunikasi, Bojonegoro mencatat Rp1.557,55 miliar. Tuban berada di Rp1.188,88 miliar, Lamongan Rp955,28 miliar, Ngawi Rp422,70 miliar, dan Nganjuk Rp390,14 miliar.

Selisih itu menunjukkan aktivitas digital di Bojonegoro tumbuh lebih cepat. Nilainya 31 persen lebih tinggi dari Tuban dan hampir dua kali lipat dibanding Lamongan.

Kontributor penting lain adalah konstruksi, yang menyumbang 12,86 persen atau Rp1,28 triliun. Angka ini menandakan pembangunan fisik di Bojonegoro masih berjalan masif.

Sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib juga memberi andil besar. Kontribusinya 5,51 persen atau Rp546,68 miliar, jauh di atas Lamongan sebesar Rp311,96 miliar dan Tuban Rp301,38 miliar.

Besarnya perputaran uang pemerintah ikut didukung APBD yang besar akibat bagi hasil minyak selama bertahun-tahun. Uang anggaran itu kemudian dipakai untuk membangun fasilitas umum dan program daerah, sekaligus menghidupkan toko serta usaha kecil warga.

Pekerjaan rumah masih ada di industri pengolahan

Di balik kekuatan banyak sektor, Bojonegoro masih punya titik lemah pada industri pengolahan. Nilainya baru Rp1,13 triliun dengan kontribusi 11,40 persen.

Angka itu tertinggal jauh dari Tuban yang sudah menembus Rp4,48 triliun. Perbedaan ini ikut membuat Tuban masih unggul dalam total ekonomi non-migas.

Bojonegoro memang belum memiliki basis pabrik besar seperti semen atau petrokimia. Arah pengembangan yang muncul masih pada pengolahan hasil panen, seperti padi atau bawang merah, agar nilai tambah tetap tinggal di daerah.

Ekonomi rakyat tetap hidup

Gambaran itu membuat Bojonegoro tidak tampak bergantung penuh pada migas. Sawah, pasar, layanan digital, belanja pemerintah, dan aktivitas konstruksi sudah membentuk fondasi ekonomi yang kuat.

Dengan modal itu, Bojonegoro tetap berdiri sebagai raksasa ekonomi daerah meski minyak dan gas tidak ikut dihitung. Kekuatan utamanya justru terlihat pada sektor-sektor yang bergerak langsung di tengah kehidupan warga.

Source: damarinfo.com

Berita Terkait

Back to top button