Sebanyak 401 anak muda mengikuti seleksi Program Magang ke Jepang 2026 di halaman Kantor Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Semarang. Bagi mereka, kesempatan ini bukan hanya soal bekerja di luar negeri, tetapi juga jalan untuk mengubah nasib keluarga dari rumah.
Antusiasme itu terlihat dari barisan peserta yang mengenakan pakaian olahraga dan hadir dengan tujuan yang nyaris serupa. Banyak dari mereka ingin memperbaiki taraf hidup keluarga, membiayai sekolah adik, dan membawa pulang pengalaman kerja Jepang untuk diterapkan di Indonesia.
Mimpi keluarga di balik nomor peserta
Di antara ratusan peserta, Bima Sujatmiko, 18 tahun, datang dari Pemalang dengan tekad yang kuat. Ia mempersiapkan diri selama berbulan-bulan dengan berlatih matematika serta menjaga kebugaran lewat push-up, sit-up, dan lari setiap hari.
Bima menegaskan bahwa motivasinya sederhana dan sangat personal. Ia ingin meningkatkan ekonomi keluarga agar bisa membiayai sekolah adiknya.
Harapan serupa datang dari Andi Ardiansyah, peserta asal Bima, Nusa Tenggara Barat. Ia sempat menunda kuliah karena keterbatasan ekonomi, lalu merantau ke Jawa, memperoleh beasiswa, dan menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada Februari 2026.
Andi kini ingin belajar langsung budaya kerja masyarakat Jepang yang dikenal disiplin, tertib, dan produktif. Ia juga berharap penghasilannya kelak dapat membantu pendidikan adik-adiknya.
Belajar disiplin dari budaya kerja Jepang
Peserta lain, Eko Prasetyo asal Tegal, melihat program magang ini sebagai bekal untuk masa depan setelah kembali ke Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai seperti disiplin, ketepatan waktu, tanggung jawab, dan saling menghormati menjadi hal penting yang ingin ia pelajari.
Eko menyebut kebiasaan sederhana seperti meminta maaf saat salah, menyapa ketika bertemu orang, dan datang kerja tepat waktu sebagai bagian dari budaya kerja yang ingin ia serap. Ia menilai pengalaman itu bisa menjadi modal berharga setelah pulang nanti.
Wakil Direktur IM Japan, Yamauchi Takeshi, menegaskan bahwa tujuan utama program magang bukan semata penghasilan. Program itu, menurut dia, juga dirancang untuk membentuk karakter, meningkatkan keterampilan, dan mempelajari etos kerja Jepang.
Minat tinggi dari berbagai daerah
Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, mengatakan minat mengikuti Program Magang ke Jepang tahun ini cukup tinggi. Dari 508 pendaftar, 401 orang hadir mengikuti seleksi.
Mayoritas peserta berasal dari Jawa Tengah, namun seleksi itu juga diikuti anak muda dari berbagai daerah lain di Indonesia. Peserta datang dari Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Bali, DKI Jakarta, Lampung, Kalimantan Utara, hingga Nusa Tenggara Barat.
Ahmad Aziz menilai tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa kesempatan belajar dan bekerja di Jepang menjadi impian anak muda dari banyak daerah. Ia melihat program ini sebagai ruang bagi generasi muda untuk menempuh jalan yang lebih luas.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga menyoroti antusiasme tersebut sebagai tanda daya saing tenaga kerja Indonesia di level internasional. Ia menilai kemampuan itu perlu terus diperkuat lewat peningkatan kompetensi dan etos kerja.
Luthfi mengingatkan peserta agar tidak berkecil hati jika belum lolos seleksi. Ia menyampaikan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda dan menegaskan bahwa keberanian untuk mencoba sudah menjadi hal yang patut dibanggakan.
Bagi para peserta, seleksi ini adalah langkah awal menuju impian yang lebih besar. Kesempatan itu dipandang sebagai jalan untuk belajar, bekerja, dan membawa pulang pengalaman yang bisa menjadi bekal membangun masa depan yang lebih baik di Indonesia.
Source: mettanews.id






