Pabrikan Mobil Mulai Tinggalkan Tembaga, Kabel Aluminium Ternyata Lebih Ringan dan Murah

Perubahan bahan kabel mulai menjadi sorotan baru di industri otomotif global. Sejumlah pabrikan mobil, termasuk Ferrari dan BMW, kini memakai aluminium untuk sistem kelistrikan pada model-model terbaru mereka.

Langkah ini penting karena tembaga selama ini menjadi standar di kendaraan. Namun, kenaikan harga tembaga, keterbatasan pasokan, dan kebutuhan kendaraan yang lebih ringan mendorong produsen mencari alternatif yang dinilai lebih efisien.

Reuters melaporkan tren tersebut diperkirakan memengaruhi sekitar 2 persen permintaan tembaga global pada tahun ini. Dalam jangka lebih panjang, JPMorgan menilai porsi penggantian tembaga oleh aluminium bisa naik menjadi 6 persen pada 2030.

Bobot Lebih Ringan, Biaya Lebih Rendah

Bagi industri otomotif, terutama mobil listrik, bobot kendaraan menjadi faktor penting. Mobil yang lebih ringan umumnya dapat menempuh jarak lebih jauh dalam sekali pengisian baterai.

Di titik inilah aluminium menjadi menarik. Material ini dinilai memberi dua keuntungan sekaligus, yaitu menurunkan bobot kendaraan dan menekan biaya produksi.

Ferrari menyebut sudah mulai menggunakan kabel aluminium pada mobil sport hybrid 296 sejak tahun lalu. Material yang sama kini juga dipakai pada Luce, mobil listrik pertama Ferrari yang meluncur bulan lalu.

Menurut Ferrari, penggunaan kabel aluminium dapat memangkas bobot keseluruhan sistem kelistrikan hingga 20 persen. Dario Esposito, eksekutif komunikasi Ferrari, mengatakan perusahaan memilih material yang memberi performa lebih baik, bukan semata karena lebih murah.

Meski begitu, faktor harga tetap sulit diabaikan. Harga aluminium saat ini sekitar 3.100 dollar AS per ton, sedangkan harga tembaga sudah lebih dari empat kali lipatnya.

Nexans menyebut banyak produsen mulai mempertimbangkan aluminium ketika harga tembaga mencapai sekitar 3,5 kali lebih mahal. Saat ini, selisih harga tersebut bahkan sudah melampaui 4,2 kali lipat.

Produsen Besar Sudah Bergerak

BMW sebenarnya bukan pemain baru dalam peralihan ini. Pabrikan Jerman itu telah memakai kabel aluminium sejak 2011 pada Seri 1 dan kemudian memperluas penggunaannya ke mobil hybrid serta mobil listrik terbaru berbasis teknologi eDrive.

Ferrari dan BMW bukan satu-satunya. Tesla dan sejumlah produsen mobil listrik asal China lebih dahulu menerapkan kabel aluminium pada kendaraan mereka.

Tesla mulai menggunakannya pada Model Y yang meluncur pada 2019. Material itu kemudian kembali diterapkan pada Cybertruck.

Stellantis juga dilaporkan mulai mengganti sebagian kabel tembaganya dengan aluminium. Namun, perusahaan itu belum memberikan komentar resmi.

Di China, pergeseran berjalan lebih cepat. Pemerintah setempat juga mendorong industri mengurangi penggunaan tembaga melalui kebijakan yang diterbitkan pada 2025.

Sejumlah merek mobil listrik seperti Avatr, XPeng, dan Xiaomi kini telah memakai kabel aluminium. Menurut Presiden Caresoft Global Terry Woychowski, banyak produsen otomotif China menjadikan Tesla sebagai acuan.

Dampaknya Tak Hanya ke Pabrikan Mobil

Perubahan ini mulai terasa di rantai pasok komponen otomotif. Perusahaan asal China, Jonver, mengatakan penjualan kabel aluminium naik dari sekitar 20 persen pada 2023 menjadi 30 persen dari total penjualannya tahun ini.

Produsen aluminium asal Norwegia, Hydro, juga menyebut permintaan aluminium sebagai pengganti tembaga terus meningkat di berbagai sektor industri. Kenaikan kebutuhan itu tidak hanya datang dari otomotif, tetapi juga dari industri lain yang sedang mencari bahan lebih ekonomis.

Di saat yang sama, tekanan pada pasar tembaga datang dari sektor di luar otomotif. Tembaga kini banyak dibutuhkan untuk pembangkit energi terbarukan dan pusat data, sehingga permintaannya melonjak dan mendorong industri lain mencari pengganti.

Belum Bisa Menggantikan Tembaga Sepenuhnya

Meski makin banyak dipakai, aluminium belum sepenuhnya menggantikan tembaga. Salah satu alasannya adalah daya hantar listrik aluminium masih berada di bawah tembaga.

Artinya, kabel aluminium harus dibuat lebih besar untuk menghantarkan arus listrik yang sama. Pada komponen tertentu yang membutuhkan konduktivitas tinggi, produsen masih memilih tembaga.

Ada tantangan lain yang juga diperhitungkan industri. Proses produksi aluminium membutuhkan energi lebih besar, sehingga menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi.

Karena itu, peralihan dari tembaga ke aluminium tidak berlangsung seragam di seluruh bagian kendaraan. Pabrikan cenderung memilih aplikasi yang paling sesuai agar efisiensi biaya dan pengurangan bobot tetap tercapai tanpa mengorbankan fungsi.

Arah pergeseran ini menunjukkan bahwa material kabel kini menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan kendaraan baru. Saat tekanan biaya, kebutuhan efisiensi, dan persaingan mobil listrik meningkat, aluminium mulai mengambil peran yang sebelumnya hampir sepenuhnya dipegang tembaga.

Source: otomotif.kompas.com
Terkait