Harga Minyak Turun, Pakar Ungkap Mengapa Pertamax Tetap Mahal dan Inflasi Tak Ikut Reda

Harga minyak dunia sedang turun, tetapi harga Pertamax belum ikut bergerak. Menurut ekonom Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, kondisi itu bukan kejanggalan, melainkan bagian dari strategi penghalusan harga atau price smoothing yang selama ini diterapkan Pertamina.

Penjelasan ini penting karena banyak konsumen berharap harga BBM nonsubsidi langsung turun saat harga minyak global melemah. Namun, Yayan menilai harga Pertamax saat ini yang masih Rp 16.250 per liter masih berada dalam batas wajar.

Yayan mengatakan keputusan mempertahankan harga Pertamax sebenarnya sudah bisa diperkirakan dari pola penetapan harga yang digunakan. Pertamina, menurut dia, tidak semata-mata mengubah harga berdasarkan naik-turunnya minyak mentah dunia dalam jangka pendek.

Alasan harga belum diturunkan

Menurut Yayan, saat Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter pada Juni lalu, angka itu sesungguhnya masih berada di bawah harga yang disiratkan oleh formula. Pada periode itu, harga produk BBM dunia sedang sangat tinggi.

Karena itu, Pertamina disebut sempat menahan harga ketika tekanan biaya sedang besar. Saat harga minyak kemudian turun, perusahaan tidak langsung memangkas harga jual karena penurunan itu dipakai lebih dulu untuk memulihkan margin yang sebelumnya tertekan.

Yayan menyebut langkah ini sebagai bagian dari price smoothing. Dalam skema itu, perusahaan tidak serta-merta menyalurkan setiap perubahan harga global ke konsumen secara langsung, tetapi menahannya agar fluktuasi harga di pasar domestik tidak terlalu tajam.

Ia menilai praktik tersebut menjelaskan mengapa harga Pertamax belum turun walau tren minyak dunia sedang melemah. Dengan kata lain, penundaan penyesuaian bukan berarti tanpa dasar perhitungan.

Tak hanya ikut harga minyak mentah

Yayan menegaskan harga BBM nonsubsidi tidak bisa dibaca hanya dari pergerakan harga minyak mentah dunia. Penentuan harga juga mengacu pada formula pemerintah dan perilaku Pertamina sebagai penentu harga di pasar.

Berdasarkan hitung-hitungan yang ia gunakan, harga Pertamax memang cenderung dipertahankan. Artinya, harga eceran yang berlaku saat ini dinilai lebih dekat dengan pendekatan kebijakan perusahaan dibanding jika hanya mengikuti formula dasar secara murni.

Untuk bulan depan, Yayan menjelaskan formula dasar mengarah pada harga sekitar Rp 13.700 per liter. Namun, dengan pendekatan smoothing, harga yang diperkirakan muncul berada di kisaran Rp 16.000 per liter atau tidak jauh berbeda dari posisi sekarang.

Selisih inilah yang menjadi inti penjelasan mengapa harga di SPBU belum turun ke level yang dibayangkan sebagian konsumen. Ada ruang antara harga berbasis formula dan harga yang dipilih dalam strategi stabilisasi.

Dampaknya bagi konsumen dan inflasi

Yayan juga memaparkan konsekuensi jika Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula. Menurut dia, manfaat utama bagi perekonomian adalah penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan.

Ia memperkirakan pelonggaran tahunan bisa bergerak dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen. Efek itu muncul karena harga BBM memiliki pengaruh luas terhadap biaya transportasi dan sejumlah harga lain di tingkat konsumen.

Sebaliknya, jika harga dipertahankan, dampak penurunan harga minyak dunia terhadap inflasi menjadi nihil. Dalam kondisi itu, manfaat pelemahan harga global lebih banyak mengalir ke pemulihan margin Pertamina dan ke ruang anggaran.

Menurut Yayan, beban subsidi pemerintah terhadap Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran. Karena itu, keputusan pada Pertamax tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan pengelolaan tekanan fiskal dan struktur pembiayaan energi secara keseluruhan.

Harga saat ini dinilai masih wajar

Di tengah sorotan publik, Yayan tetap menilai harga Rp 16.250 per liter masih bisa dibenarkan dalam kerangka kebijakan yang dipakai. Penilaian itu didasarkan pada fakta bahwa saat harga global sangat tinggi, harga Pertamax sebelumnya tidak langsung mencerminkan lonjakan penuh dari formula.

Dengan demikian, ketika harga dunia turun, penyesuaian yang tertahan dipakai untuk menutup tekanan margin yang sempat diserap perusahaan. Pola ini membuat perubahan harga di tingkat konsumen menjadi lebih lambat, tetapi dianggap konsisten dengan strategi penghalusan harga.

Penjelasan tersebut memberi gambaran bahwa harga Pertamax tidak ditetapkan hanya oleh satu variabel. Selain tren minyak dunia, ada pertimbangan formula, margin, stabilitas harga, dan beban subsidi energi yang ikut memengaruhi keputusan akhir di SPBU.

Source: oto.detik.com
Terkait