Mengapa Kucing Tak Lagi Tahan Susu Saat Dewasa, Ini Penjelasan yang Jarang Disadari

Banyak pemilik kucing masih mengira semangkuk susu segar adalah hadiah yang aman untuk hewan peliharaan mereka. Padahal, bagi sebagian besar kucing dewasa, susu justru memicu gangguan pencernaan karena tubuh mereka tidak lagi mampu memecah laktosa dengan baik.

Intoleransi laktosa pada kucing bukan tanda daya tahan tubuh yang lemah. Kondisi ini terjadi karena produksi enzim laktase menurun seiring pertumbuhan, sehingga gula laktosa dalam susu tidak tercerna dan kemudian mengganggu sistem pencernaan.

Mengapa tubuh kucing berubah

Kucing dewasa secara alami adalah karnivora sejati. Saat masih anak kucing, tubuh mereka menghasilkan banyak laktase untuk mencerna susu induk, tetapi kemampuan itu menurun setelah penyapihan.

Proses ini biasanya mulai terlihat sekitar usia 8 minggu, ketika produksi laktase turun secara signifikan. Setelah tahun pertama kehidupan, sebagian besar kucing tidak lagi memproduksi enzim tersebut.

Tanpa laktase, laktosa yang masuk ke tubuh tidak dapat diurai dengan benar. Gula itu lalu menarik air ke dalam usus dan dapat memicu diare, sementara sebagian lainnya berfermentasi di usus besar dan menimbulkan gangguan pencernaan.

Apa yang terjadi setelah kucing minum susu

Laktosa yang tidak tercerna tidak berhenti di lambung. Zat itu terus bergerak ke saluran usus, menarik berbagai macam bakteri, lalu berfermentasi dan memicu reaksi pada sistem pencernaan.

Kondisi ini sering membuat kucing merasa tidak nyaman. Pada beberapa kasus, pencernaan juga menjadi kurang efisien sehingga daya cerna protein dalam makanan dapat ikut menurun.

Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul sekitar 8 hingga 12 jam setelah kucing pertama kali mengonsumsi produk susu. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain diare, suara gemericik perut, perut kembung, sering kentut, sering buang air besar, pantat kotor dan bau, membersihkan bagian bawah tubuh secara berlebihan, serta lesu atau kurang energi.

Susu apa yang paling berisiko

Susu sapi termasuk yang paling tidak aman untuk kucing karena kandungan laktosanya tinggi. Varian utuh, skim, maupun rendah lemak sama-sama berpotensi memicu masalah pencernaan.

Krim atau susu setengah krim juga tidak dianjurkan. Kandungan lemak dan laktosanya lebih tinggi, sehingga dapat mengganggu pencernaan dan berkontribusi pada penambahan berat badan.

Susu kambing dan susu domba memang cenderung lebih mudah dicerna karena laktosanya sedikit lebih rendah dan molekul lemaknya lebih kecil. Namun, keduanya tetap mengandung laktosa dalam jumlah yang signifikan dan masih bisa menimbulkan gangguan perut, terutama pada kucing yang sensitif.

Anak kucing memiliki pengecualian yang berbeda. Mereka hanya boleh minum susu induknya atau susu pengganti khusus anak kucing jika induk tidak bisa memproduksi susu.

Apa yang perlu dilakukan pemilik kucing

Tidak ada pengobatan untuk menghentikan intoleransi laktosa pada kucing. Karena itu, langkah paling aman adalah menghindari pemberian susu dan keju kepada kucing dewasa yang sensitif terhadap laktosa.

Jika kucing mengalami diare setelah mengonsumsi produk susu, pemberian makanan bisa dibuat dalam porsi kecil, hambar, dan sering. Pilihan yang disebutkan antara lain ayam rebus atau ikan putih, dengan semua tulang dan kulit dibuang terlebih dahulu.

Dalam kasus yang parah, kucing mungkin memerlukan perawatan dokter hewan. Karena gejalanya bisa muncul beberapa jam setelah minum susu, pemilik perlu lebih waspada saat melihat perubahan perilaku, frekuensi buang air, atau kondisi perut hewan peliharaan mereka.

Source: www.idntimes.com
Terkait