AI Tak Langsung Untung, Stella Ingatkan Perusahaan RI Soal Timing Dan SDM

Perusahaan di Indonesia yang ingin buru-buru mengadopsi AI diminta tidak hanya terpukau oleh teknologinya. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Stella Christie mengingatkan bahwa manfaat finansial AI tidak selalu muncul cepat, meski ekspektasi awal sering mengarah ke hasil instan.

Stella mengutip data global yang menunjukkan banyak perusahaan berharap AI segera mendongkrak pendapatan. Namun, menurut dia, realisasi pengembalian investasi justru kerap membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan awal.

Dalam acara Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026), Stella menyebut banyak perusahaan menargetkan ROI dalam 7-12 bulan. Ia menambahkan, data global memperlihatkan mayoritas manfaat baru benar-benar terasa setelah 2-3 tahun.

Fokus utama bukan sekadar memakai AI

Pesan utama yang disampaikan Stella adalah agar perusahaan tidak terjebak pada keinginan memakai AI semata. Menurut dia, keputusan adopsi harus berangkat dari kebutuhan bisnis yang jelas dan perhitungan yang matang.

Ia menekankan bahwa sumber daya manusia tetap memegang peran penting dalam menentukan apakah sebuah masalah memang layak diselesaikan dengan AI. Perusahaan juga perlu menilai apakah biaya penerapan teknologi tersebut sepadan dengan manfaat yang dihasilkan.

Stella menyoroti pentingnya menghitung kapan AI layak diadopsi agar implementasinya tidak merugikan perusahaan maupun sistem yang dibangun. Dengan begitu, AI bisa memberi nilai tambah tanpa menimbulkan beban biaya yang tidak perlu.

Empat langkah sebelum mengadopsi AI

Dalam kesempatan yang sama, Stella memaparkan empat langkah sederhana yang dapat dipakai perusahaan sebelum mengimplementasikan AI. Langkah pertama adalah “What”, yakni memastikan masalah apa yang ingin diselesaikan dengan AI.

Langkah kedua adalah “When”, yaitu menentukan waktu adopsi yang tepat agar teknologi digunakan saat perusahaan sudah siap. Pada tahap ini, AI juga perlu dipastikan bisa dipakai dengan biaya yang masih terjangkau.

Langkah ketiga adalah “Who”, yang berkaitan dengan siapa yang memahami proses adopsi AI dan siapa yang akan menjalankannya. Menurut Stella, kejelasan peran ini penting agar implementasi tidak berjalan tanpa arah.

Langkah keempat adalah “humans in the loop”, yakni memastikan manusia tetap terlibat dalam proses kerja AI. Stella menilai keterlibatan manusia tetap dibutuhkan untuk menjaga agar keputusan berbasis AI tidak mengabaikan pertimbangan penting di lapangan.

Ia juga mengingatkan agar perusahaan tidak buru-buru memangkas tenaga kerja hanya karena mulai memakai AI. Menurut Stella, setelah tiga hal awal itu terpenuhi, perusahaan tetap perlu mempertahankan peran manusia karena mereka masih dibutuhkan dalam proses bisnis.

AI perlu dihitung, bukan hanya diikuti tren

Pernyataan Stella datang di tengah besarnya minat perusahaan terhadap AI untuk mendorong efisiensi dan pendapatan. Namun, dia menegaskan bahwa adopsi teknologi harus dilihat sebagai keputusan bisnis, bukan sekadar mengikuti tren.

Dengan pertimbangan yang tepat, AI bisa menjadi alat bantu yang menguntungkan. Sebaliknya, tanpa perhitungan yang jelas, teknologi yang mahal justru berisiko membebani perusahaan dan sistem yang sudah dibangun.

Source: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button