Pusat Data Orbit Mengancam Teleskop Bumi, Ilmuwan Minta Regulasi Ketat

Rencana membangun pusat data di orbit Bumi kembali memicu alarm di kalangan ilmuwan. Mereka menilai pertumbuhan jumlah satelit, termasuk proposal yang dikaitkan dengan SpaceX milik Elon Musk, bisa mengganggu pengamatan teleskop berbasis darat secara serius.

Kekhawatiran itu muncul karena satelit tidak hanya menambah kepadatan lalu lintas antariksa, tetapi juga berpotensi mengubah kualitas langit malam. Para peneliti menegaskan, jika jumlah satelit aktif terus naik hingga melampaui sekitar 100.000 unit, observatorium di Bumi bisa menghadapi hambatan besar akibat cahaya pantulan dan jejak satelit di langit.

Dua cara satelit mengganggu pengamatan

Peneliti menjelaskan bahwa satelit memberi dampak lewat dua jalur utama. Permukaan satelit memantulkan sinar Matahari dan membuat langit malam lebih terang, sehingga objek langit yang redup menjadi lebih sulit terlihat.

Gangguan kedua muncul saat satelit melintas di depan bidang pandang teleskop. Garis terang atau satellite streaks bisa merusak citra astronomi dan membuat sebagian data ilmiah menjadi kurang akurat, bahkan tidak bisa dipakai.

Simulasi tim European Southern Observatory (ESO) menunjukkan bahwa langit yang makin terang juga memaksa teleskop menggunakan waktu pencahayaan atau exposure lebih lama. Kondisi itu berdampak langsung pada efisiensi observasi, biaya operasional, dan jumlah penelitian yang dapat dilakukan.

Pusat data orbit jadi sorotan baru

Perhatian ilmuwan kini tertuju pada gagasan pusat data di orbit yang disebut akan memakai satelit sebagai infrastruktur komputasi untuk kebutuhan cloud dan kecerdasan buatan. Desain satelit ini diklaim telah dioptimalkan agar pantulan cahayanya lebih kecil dibanding satelit konvensional.

Meski begitu, para peneliti menilai risiko tetap harus dihitung jika jumlah peluncurannya mencapai skala sangat besar. Proposal yang beredar bahkan menyebut peluang peluncuran hingga jutaan satelit dalam jangka panjang, dan itu dinilai bisa menumpuk dampak cahaya meski tiap satelit dibuat lebih redup.

Gangguan tidak bisa dihindari dengan lokasi terpencil

Astronom menilai polusi cahaya dari kota masih dapat diakali dengan membangun observatorium di tempat terpencil. Namun, gangguan dari satelit tidak mengenal batas geografis karena objek itu mengorbit seluruh Bumi.

Itu berarti teleskop di Gurun Atacama, Antarktika, maupun wilayah jauh dari permukiman tetap bisa terdampak. Para ilmuwan memperingatkan, efek tersebut dapat mengurangi manfaat teleskop besar yang dibangun dengan investasi sangat mahal dan dirancang untuk observasi jangka panjang.

Ancaman bagi observatorium darat

Teleskop berbasis darat masih punya sejumlah keunggulan penting dibanding teleskop luar angkasa. Fasilitas ini biasanya memiliki cermin yang lebih besar, biaya operasional yang lebih rendah, dan kemampuan pengamatan yang bisa berlangsung lama.

Karena itu, penurunan kualitas langit malam dinilai akan memberi dampak besar bagi perkembangan astronomi. Jika kondisi terus memburuk, kemampuan teleskop modern untuk membaca objek langit yang sangat redup akan ikut menurun.

Regulator diminta lebih ketat

Komunitas astronomi internasional meminta regulator melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menyetujui proyek besar di orbit. Mereka menilai ruang angkasa adalah sumber daya bersama yang dampaknya dirasakan secara global.

Selain pusat data orbit, peneliti juga menyoroti proposal konstelasi satelit lain yang bisa memperparah situasi. Salah satunya adalah rencana peluncuran puluhan ribu satelit pemantul cahaya Matahari, yang menurut simulasi ESO justru berpotensi menimbulkan polusi cahaya jauh lebih besar daripada konstelasi satelit komunikasi biasa.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 14.000 satelit yang mengorbit Bumi. Jumlah itu masih jauh dari ambang yang diperkirakan bisa melumpuhkan astronomi berbasis darat, tetapi para ilmuwan menilai langkah mitigasi dan regulasi harus disiapkan sejak awal agar observasi langit tetap berjalan optimal di masa mendatang.

Source: www.medcom.id
Terkait