CEO Chevron Wanti-Wanti Selat Hormuz Tak Aman, Jalur Minyak Dunia Kian Goyah

Kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz kembali mencuat setelah CEO Chevron, Mike Wirth, menyebut jalur strategis itu belum aman bagi transit kapal. Ia menilai stabilitas operasi di kawasan Teluk Persia masih menghadapi masalah besar di tengah baku tembak antara militer Amerika Serikat dan pasukan Iran.

Peringatan itu muncul saat militer AS berupaya memulihkan jalur transit pada Senin, 4 Mei 2026, setelah Presiden AS Donald Trump menginstruksikan pembukaan kembali pelayaran. Langkah tersebut dinilai berisiko mengganggu kesepakatan gencatan senjata sebelumnya dan menambah tekanan pada pasokan energi global.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Wirth mengatakan ia sudah berkomunikasi dengan pihak internal yang mengelola aset pengiriman Chevron di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa perusahaan tetap khawatir terhadap keamanan transit kapal di selat yang menjadi salah satu jalur energi paling penting di dunia itu.

“Saya telah berhubungan dengan orang-orang kami yang mengelola aset pengiriman kami di wilayah tersebut dan kami tetap prihatin tentang keamanan transit,” kata Wirth. Ia juga menyebut masih ada sejumlah persoalan yang perlu diatasi sebelum situasi bisa dianggap normal.

Penutupan Selat Hormuz secara efektif telah menghambat distribusi sekitar 1 miliar barel kargo minyak mentah di pasar internasional. Gangguan itu ikut mendorong harga minyak dunia melonjak hingga hampir 60% dalam sembilan minggu terakhir.

Dampak ke Pasar Energi Global

Lonjakan harga tersebut memaksa perusahaan energi besar seperti Chevron memangkas volume produksi di Timur Tengah. Tekanan ini menunjukkan betapa besar pengaruh Selat Hormuz terhadap aliran minyak global dan keseimbangan pasar energi.

Wirth juga telah menyampaikan langsung kepada pemerintah Amerika Serikat bahwa cadangan minyak yang selama ini menjadi penyangga bagi kilang-kilang mulai menipis. Menurut dia, bantalan dalam sistem energi global sedang berada di titik kritis.

“I telah memberi tahu orang-orang di pemerintahan bahwa penyangga dalam sistem yang membantu memastikan pasokan tersedia untuk pasar sedang berkurang,” kata Wirth. Ia menilai kondisi itu bisa memicu tekanan harga yang lebih tinggi dan memperbesar risiko volatilitas di pasar global.

Tekanan Harga Masih Membayangi AS

Meski Amerika Serikat merupakan produsen minyak terbesar, Wirth menegaskan dampak kenaikan harga tetap akan terasa oleh masyarakat di negara itu. Ia mengatakan AS akan menghadapi tekanan harga, meski risiko terberat justru ada di luar negeri.

“Ini menciptakan tekanan harga yang lebih tinggi, berpotensi lebih banyak volatilitas dan lebih banyak risiko,” kata Wirth. Ia menambahkan bahwa gangguan pasokan fisik di bagian dunia lain jauh lebih berbahaya daripada di AS.

Pernyataan itu menempatkan Selat Hormuz sebagai pusat kekhawatiran baru dalam geopolitik energi. Selama konflik masih berlangsung dan jalur pelayaran belum benar-benar aman, pasar minyak diperkirakan tetap berada di bawah bayang-bayang risiko pasokan dan gejolak harga.

Terkait