Lonjakan saham IPO hingga menyentuh auto reject atas atau ARA berulang kali dapat memicu euforia besar pada awal perdagangan. Namun, kenaikan cepat itu juga menyimpan risiko koreksi tajam ketika minat pasar mulai berkurang.
Investor ritel yang mengejar harga setelah reli perlu mencermati apakah potensi imbal hasil masih sepadan dengan risikonya. Sejumlah saham yang sempat menguat setelah melantai bahkan berbalik melemah dalam perdagangan Jumat, 17 Juli 2026.
Valuasi Premium Jadi Tantangan
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menilai pendekatan fundamental sulit diterapkan untuk banyak saham yang baru melakukan IPO. Alasannya, emiten yang baru masuk bursa umumnya diperdagangkan pada valuasi yang relatif premium.
Menurut Imam, kondisi tersebut membuat saham IPO kurang ideal bagi investor yang memiliki orientasi investasi jangka panjang. Di luar saham IPO, masih terdapat emiten lain yang diperdagangkan lebih murah atau berada di bawah nilai wajarnya.
Antusiasme pasar menjadi salah satu pendorong utama tingginya harga saham baru. Penawaran saham perdana yang mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed dapat mendorong harga melonjak cepat pada hari-hari awal perdagangan.
Situasi ini kerap membuat saham IPO menjadi pusat perhatian pelaku pasar. Ketika permintaan tinggi bertemu dengan pasokan saham yang terbatas, harga dapat bergerak agresif hingga menyentuh batas ARA secara beruntun.
Enam Saham IPO Berbalik Melemah
Euforia tersebut mulai memperlihatkan sisi berbeda setelah sejumlah saham IPO melewati sekitar sepekan masa perdagangan. Enam saham yang sebelumnya mencatatkan kenaikan signifikan justru ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan.
Berdasarkan data yang dihimpun money.kompas.com, JELI dan PRDL mencatatkan penurunan harian paling dalam pada Jumat tersebut. Meski demikian, beberapa saham masih membukukan kenaikan sejak pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia.
| Saham | Penutupan Jumat | Perubahan Harian | Kinerja Sejak IPO |
|---|---|---|---|
| JELI | Rp 895 | Turun 10,95 persen | Turun 0,56 persen |
| PRDL | Rp 386 | Turun 11,47 persen | Naik 221,67 persen |
| JECX | Rp 1.315 | Turun 1,13 persen | Naik 5,20 persen |
| EMMI | Rp 448 | Turun 2,61 persen | Turun 4,68 persen |
| BACH | Rp 540 | Turun 4,42 persen | Naik 22,17 persen |
| RANS | Rp 250 | Turun 1,57 persen | Naik 47,06 persen |
Saham JELI terkoreksi 40,13 persen dalam sepekan terakhir dan sempat berada dalam tekanan jual sepanjang sesi perdagangan. Sejak IPO pada 7 Juli 2026, penurunannya masih relatif terbatas, yakni 0,56 persen.
PRDL juga melemah hingga Rp 386 setelah sempat bergerak dari kisaran Rp 458 dan menyentuh posisi Rp 382. Walau terkoreksi pada perdagangan Jumat, saham ini masih naik 77,06 persen dalam sepekan.
JECX melemah 1,13 persen menjadi Rp 1.315 dan tercatat turun 8,04 persen dalam sepekan. Sementara itu, EMMI ditutup di Rp 448 setelah sempat menyentuh titik terendah harian Rp 434.
BACH turun 4,42 persen ke Rp 540, tetapi masih menguat 8 persen dalam sepekan. RANS ditutup turun 1,57 persen ke Rp 250 setelah bergerak di rentang Rp 244 hingga Rp 268.
Teknikal dan Money Flow Perlu Dicermati
Imam menyebut investor yang tetap ingin bertransaksi pada saham IPO dapat mempertimbangkan analisis teknikal dan money flow. Kedua pendekatan tersebut dinilai lebih relevan untuk membaca pergerakan harga saham yang baru tercatat di bursa.
Investor juga perlu memperhatikan arah pergerakan dana dari pelaku pasar besar atau smart money. Akumulasi dana oleh pelaku besar dapat menjadi salah satu sinyal bahwa saham masih berpeluang melanjutkan penguatan.
Meski ada sinyal akumulasi, keputusan masuk tetap perlu mempertimbangkan posisi harga saat itu. Investor perlu memastikan rasio antara risiko dan potensi imbal hasil masih menarik sebelum membeli saham IPO.
Pergerakan harga yang cepat setelah IPO dapat membuka peluang, tetapi juga meningkatkan risiko bagi pembeli yang masuk saat valuasi sudah tinggi. Riset mandiri dan pengelolaan risiko tetap diperlukan karena keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
