Ronaldo Usai Piala Dunia, Pengakuan Pahit Soal Akhir Perjuangannya di Timnas

Cristiano Ronaldo menutup Piala Dunia dengan wajah yang jauh dari biasanya: kepala tertunduk, berjalan sendiri di lapangan, dan baru mendapat pelukan penguat dari Rodri. Setelah Portugal tersingkir oleh Spanyol di babak 16 besar, ia mengaku sudah memberikan segalanya dan menegaskan bahwa dirinya tenang dengan apa yang telah dilakukan.

Pernyataan itu sekaligus memunculkan pertanyaan besar tentang masa depannya bersama tim nasional. Ronaldo menyebut laga tersebut sebagai Piala Dunia terakhirnya, tetapi ia juga menolak mengambil keputusan saat emosi masih tinggi dan meminta waktu sebelum menentukan langkah berikutnya.

Sikap tenang di tengah eliminasi

Ronaldo mengatakan ia sedih, namun tetap merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Ia menilai Portugal masih bisa tampil lebih baik, tetapi pada saat yang sama mengakui timnya dikalahkan oleh lawan yang sangat kuat.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya sudah mengerahkan kemampuan maksimal. Setelah itu, ia mengalihkan pikirannya ke keluarga dan kehidupan setelah turnamen, sambil menolak membuat keputusan tergesa-gesa.

Akhir yang berat untuk perjalanan panjang

Bagi Ronaldo, malam di Dallas menambah lapisan baru pada hubungan yang rumit dengan Piala Dunia. Ia sudah tampil di enam Piala Dunia dan selalu mencetak gol, tetapi turnamen ini kembali berakhir dengan eliminasi.

Secara keseluruhan, kisahnya di ajang itu lebih sering berujung kecewa ketimbang bahagia. Catatan terbaiknya di level tim nasional tetap belum datang dari Piala Dunia, melainkan dari Euro 2016 yang ia sebut memiliki bobot seperti sebuah Piala Dunia.

Rekam jejak yang tetap luar biasa

Terlepas dari hasil di lapangan, Ronaldo masih memegang sejumlah rekor besar. Ia adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa di level tim nasional, dengan 146 gol dari 233 pertandingan, dan menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di enam Piala Dunia.

Ia juga termasuk dalam kelompok kecil pemain dengan 200 penampilan internasional. Rekor itu menegaskan bahwa warisannya bersama Portugal tetap sangat besar, apa pun perdebatan yang menyertai akhir kariernya.

Apakah masih lanjut di timnas?

Masih ada tanda tanya soal apakah pertandingan melawan Spanyol menjadi penampilan terakhir Ronaldo untuk Portugal. Di negaranya, banyak yang percaya ia masih bisa bermain selama dua tahun lagi, tetapi keputusan itu belum akan diumumkan dalam suasana panas.

Pelatih Roberto Martinez memberi penghormatan kepadanya setelah laga. Martinez menyebut Ronaldo sebagai ikon sepak bola, contoh besar bukan hanya karena gol dan assist, tetapi juga sebagai pribadi dan manusia.

Martinez juga tidak menariknya keluar lebih cepat, sehingga Ronaldo tetap menyelesaikan laga sampai akhir. Sikap itu ikut memicu diskusi lama soal apakah CR7 masih menjadi aset penting bagi Portugal atau justru sudah mulai menjadi beban.

Bayang-bayang usia dan perubahan peran

Di usia 41 tahun, Ronaldo masih mampu mencetak gol dan bermain di level tinggi. Namun, performanya sudah tidak lagi sama seperti masa ketika ia bisa tampak seperti mesin gol yang nyaris tak terbendung.

Ia masih sempat menunjukkan akselerasi dan melewati beberapa pemain, tetapi situasinya kini berbeda. Kecepatan yang dulu menjadi senjata utamanya sudah berkurang, dan itu membuat kontras dengan era ketika namanya identik dengan dominasi selama bertahun-tahun.

Arah berikutnya masih terbuka

Nama Jorge Jesus juga disebut sebagai sosok yang mungkin menangani Portugal berikutnya. Ronaldo sudah pernah bekerja sama dengan pelatih itu di Al Nassr, sehingga kemungkinan itu ikut memengaruhi perbincangan tentang masa depannya bersama tim nasional.

Di sisi lain, gelombang kritik terhadapnya juga masih ada. Media Portugal A Bola bahkan menulis editorial keras tak lama setelah laga, dengan menyerukan agar siklus sang kapten ditutup, meski nada itu terasa tajam setelah momen emosional usai pertandingan.

Source: www.gazzetta.it
Terkait