Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, memberikan pujian terhadap kemajuan ekonomi negaranya serta peningkatan posisi regional saat membuka kongres partai penting yang akan menentukan arah kebijakan domestik dan luar negeri untuk lima tahun ke depan. Pertemuan ini juga menjadi arena bagi Kim untuk memperkuat kekuasaannya di bawah rezim otoriter keluarganya.
Kongres Partai Buruh yang berlangsung di Pyongyang ini menandai upaya Korea Utara memperkuat pengaruhnya dengan memanfaatkan pengembangan senjata nuklir dan kemitraan yang semakin erat dengan Moskow. Hubungan ini makin memperkeruh ketegangan dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan serta menegaskan posisi agresif Korea Utara di kancah geopolitik regional.
Kepercayaan Diri yang Meningkat
Selama memasuki tahun ke-15 kekuasaannya, Kim Jong Un berada dalam posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan saat kongres terakhir tahun 2021, ketika ekonomi Korea Utara terpukul parah akibat pandemi dan kegagalan diplomasi nuklir dengan AS. Kini, Kim menegaskan adanya kemajuan signifikan dalam perekonomian dan posisi negara yang semakin kokoh secara regional, yang dia sebut sebagai penguatan yang “tak terbalikkan” dari status negara tersebut.
Kemajuan ini sebagian besar ditopang oleh rebound perdagangan pasca pandemi dengan China dan ekspor senjata ke Rusia. Meski perekonomian Korea Utara masih tertutup dan sulit diselidiki secara menyeluruh, para analis seperti Lee Jong-kyu dari Korea Development Institute memperkirakan laju pertumbuhan sekitar 10 persen dalam lima tahun terakhir. Keberhasilan ini menjadi salah satu periode paling produktif bagi rezim Korea Utara sejak dekade 1950-an.
Penguatan Kekuatan Nuklir dan Konvensional
Sejak 2021, Korea Utara telah mengembangkan berbagai sistem senjata yang sebelumnya diinginkan Kim, termasuk rudal balistik antar-benua berbahan bakar padat dan sistem nuklir taktis. Pada 2023, negara itu meluncurkan satelit militer pertamanya dan mengumumkan kemajuan dalam pembangunan kapal selam bertenaga nuklir.
Selain fokus pada senjata nuklir, kini Kim juga mengarahkan perhatian kepada penguatan kemampuan konvensional dengan meluncurkan kapal perang baru, senjata anti-pesawat, dan drone serang. Rencana lima tahun mendatang akan memadukan kekuatan nuklir dan konvensional secara paralel, sebagai strategi memperkuat pertahanan dan menurunkan ambang penggunaan senjata nuklir.
Menjaga Jarak dengan Seoul dan Washington
Sejak diplomasi dengan Presiden AS Donald Trump gagal pada 2019, Kim menjauh dari dialog dengan Korea Selatan. Pada 2024, ia bahkan menghapus tujuan persatuan damai dan menyebut Seoul sebagai musuh permanen. Kongres ini diperkirakan akan semakin mengukuhkan sikap keras terhadap Korea Selatan dengan kemungkinan perubahan aturan partai yang menegaskan hubungan antar kedua negara sebagai hubungan negara bermusuhan.
Sementara itu, terhadap Amerika Serikat, Kim tampak akan mengambil pendekatan yang lebih hati-hati agar tetap membuka peluang dialog di masa depan. Tujuan jangka panjangnya adalah meraih pengurangan sanksi dan pengakuan tersirat sebagai negara nuklir. Hubungan yang menguat dengan Rusia saat ini turut menjadi modal diplomatik Kim, namun ia juga berupaya menjaga opsi strategi jika konflik di Ukraina berakhir dan nilai strategis Korea Utara bagi Moskow menurun.
Faktor Geopolitik dan Strategi Rezim
Kim memanfaatkan perang Rusia di Ukraina sebagai momentum mempercepat pengembangan senjata dan mempererat hubungan dengan Moskow, termasuk mengerahkan pasukan dan mengirim perlengkapan militer besar-besaran. Memperkuat aliansi dengan China juga dilakukan melalui pertemuan tingkat tinggi setelah bertahun-tahun terputus, memperkuat citra Korea Utara sebagai bagian dari front yang menentang kebijakan Amerika Serikat di kawasan Asia Timur.
Di dalam negeri, rezim semakin mengencangkan kontrol terhadap informasi dan budaya asing, terutama pengaruh budaya Korea Selatan, sebagai bentuk penguatan rezim otoriter keluarga Kim. Hal ini menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas internal dan kesinambungan kekuasaan dalam menghadapi tekanan eksternal dan dinamika geopolitik yang terus berubah.
Kongres ini tidak hanya menandai pencapaian penting dalam politik dan militer Korea Utara, tetapi juga menegaskan arah kebijakan yang akan dijalankan untuk lima tahun mendatang. Kim Jong Un mengarahkan negara ke jalur penguatan kemandirian ekonomi dan militer, sekaligus menjaga kekuatan diplomatik demi mempertahankan posisi Korea Utara di mata dunia dan memastikan kelangsungan rezimnya dalam menghadapi tantangan global dan regional.
