Jatim Sabet Tiga Penghargaan Halal, Khofifah Dorong Ekonomi Syariah Jadi Mesin Tumbuh

Author: Qoo Media

Jawa Timur mencuri perhatian di ajang UB Halal Metric Award 2026 setelah meraih tiga penghargaan sekaligus di Kota Malang. Capaian itu menegaskan posisi Jatim sebagai salah satu daerah yang paling aktif membangun ekosistem halal di Indonesia.

Dua penghargaan yang diraih Jatim berstatus Gold Winner, masing-masing pada kategori Commitment to the Development of Halal Infrastructure 2026 dan Commitment to the Development of Halal Education 2026. Satu penghargaan lain diraih sebagai Silver Winner pada kategori Commitment to the Development of Halal Innovation, Collaboration, and Public Empowerment 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Ahmad Haikal Hasan, kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang diwakili Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. Khofifah menilai capaian itu lahir dari sinergi pemerintah kabupaten/kota, BPJPH, dan dunia akademik.

Menurut Khofifah, kontribusi kepala daerah di kabupaten/kota juga ikut mendorong penguatan produk halal di daerah masing-masing. Ia menegaskan bahwa Jawa Timur terus fokus pada ekosistem ekonomi syariah, dengan produk halal sebagai salah satu pilar utamanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mencatat dukungan kelembagaan yang cukup kuat di sektor halal. Dari 124 Lembaga Pemeriksa Halal di Indonesia, 15 di antaranya berada di Jawa Timur, sementara 85 dari 393 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal nasional juga berada di provinsi ini.

Dukungan itu diperkuat oleh 16.424 pendamping Proses Produk Halal dari Jawa Timur. Jumlah tersebut menjadi bagian dari 129.368 pendamping secara nasional dan menunjukkan kesiapan Jatim dalam memperkuat ekosistem halal di tingkat regional maupun nasional.

Khofifah menilai penghargaan ini perlu menjadi dorongan bagi pelaku industri halal di Jawa Timur untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing. Ia juga menyebut bahwa halal kini tidak hanya dipahami sebagai persoalan religius, tetapi sudah menjadi nilai tambah bagi konsumen.

“Halal sudah menjadi customer value bukan hanya soal sisi religius tapi ada value di dalamnya,” kata Khofifah. Ia menegaskan pemerintah provinsi akan terus fokus mengembangkan ekosistem ekonomi syariah.

Khofifah juga melihat potensi besar Jawa Timur untuk menjadi salah satu pusat pengembangan industri halal di Indonesia. Salah satu modalnya adalah keberadaan pesantren yang tersebar luas di berbagai daerah.

“Jawa Timur dikenal provinsi yang banyak pesantrennya. Oleh karena itu pesantren juga menjadi mesin penggerak produk halal,” ujarnya. Pernyataan itu menempatkan pesantren bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga bagian dari penguatan rantai ekonomi halal.

Dari sisi nasional, Ahmad Haikal Hasan menegaskan bahwa halal kini telah berkembang menjadi kebutuhan global. Ia menyebut halal bukan semata isu keagamaan, melainkan ruang tumbuh ekonomi yang semakin mendapat perhatian di berbagai negara.

“Halal is for everybody. Halal itu adalah tempat tumbuhnya ekonomi, growth economy,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa isu halal telah menjadi perhatian di Asia Timur dan Eropa, sehingga ajang seperti UB Halal Metric Award diharapkan ikut mempercepat pengembangan industri halal nasional.

Source: www.kabarnusantara.co.id
Terbaru