Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menaruh perhatian besar pada kesehatan hewan kurban menjelang Idul Adha 2026. Lewat program kesehatan hewan keliling atau Healing, Pemprov Jateng ingin memastikan hewan yang dijual tetap sehat, aman, dan layak dikonsumsi masyarakat.
Upaya itu tidak hanya menyasar pemeriksaan fisik hewan. Pemerintah juga memperketat pengawasan lalu lintas ternak, vaksinasi, pemberian vitamin, serta edukasi kepada pedagang dan masyarakat tentang kriteria hewan kurban yang sehat.
Pengawasan diperluas hingga jalur ternak
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng Defransisco Dasilva Tavares mengatakan program Healing mencakup pemeriksaan ternak yang masuk dan keluar Jawa Tengah. Pemeriksaan kesehatan hewan juga dilakukan bersama penerjunan petugas kesehatan hewan di lapangan.
Menurut dia, langkah itu penting untuk mengantisipasi potensi penyebaran penyakit hewan menular. Penanganan potensi zoonosis dan temuan cacing hati juga diperkuat agar keamanan hewan kurban tetap terjaga.
Edukasi pedagang dan juru sembelih ikut diperkuat
Selain pemeriksaan kesehatan, Pemprov Jateng juga memberi perhatian pada edukasi. Pedagang dan masyarakat mendapat sosialisasi mengenai ciri hewan kurban yang sehat agar proses pembelian lebih tepat.
Di sisi lain, pemerintah juga melakukan uji kompetensi juru sembelih halal. Langkah ini disiapkan agar penyembelihan hewan kurban tetap sesuai dengan syariat Islam.
Kebutuhan kurban dinilai aman terpenuhi
Defransisco menegaskan Jawa Tengah berada dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban masyarakat pada momentum Hari Raya Iduladha 2026. Ia menyebut kebutuhan masyarakat untuk kurban tercatat sekitar 10 persen dari populasi ternak yang ada.
Berdasarkan data dan proyeksi 2026, populasi ternak sapi, kambing, dan domba di Jateng diperkirakan mencapai 6.413.010 ekor. Jumlah itu terdiri atas 1.393.159 ekor sapi, 1.421.246 ekor domba, dan 3.598.605 ekor kambing.
Jateng jadi penyangga peternakan nasional
Besarnya populasi ternak membuat Jawa Tengah dipandang sebagai salah satu daerah penyangga utama subsektor peternakan nasional. Kondisi itu juga memperlihatkan posisi strategis Jateng dalam memasok kebutuhan ternak di dalam negeri.
Pada 2026, produksi daging di Jateng diperkirakan mencapai 942.496 ton. Produksi telur diproyeksikan 917.862.000 ton, sementara produksi susu diperkirakan 76.570 ton.
Peran inseminator dan peternak disorot
Pemprov Jateng juga menilai penguatan sektor peternakan tidak lepas dari peran inseminator. Saat ini, Jateng memiliki 766 inseminator yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno memberi apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan peternakan tersebut. Ia menilai peternak dan inseminator merupakan ujung tombak dalam mengembangkan ternak agar lebih efisien dan berkualitas.
Di tengah penguatan pengawasan hewan kurban, Pemprov Jateng juga mendorong transfer informasi peternakan menuju sistem yang lebih modern berbasis teknologi. Langkah itu diarahkan agar sektor peternakan dapat lebih efisien dan mampu menjawab kebutuhan pasar.
