Taruna Akmil Dampingi Siswa Sekolah Rakyat di Asrama, Lima Hari Belajar Mandiri

Kementerian Sosial bersama TNI menyiapkan sekitar 1.000 taruna Akademi Militer tingkat I dan II untuk mendampingi siswa Sekolah Rakyat di 178 titik. Pendampingan ini fokus pada kehidupan berasrama, bukan kegiatan belajar di kelas, dan akan berlangsung selama lima hari di tiap lokasi.

Program tersebut dirancang agar siswa lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saat tinggal jauh dari keluarga. Dalam pelaksanaannya, para taruna akan membantu membiasakan rutinitas sederhana yang membentuk kemandirian dan kedisiplinan.

Pendampingan untuk kehidupan asrama

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa taruna Akmil tidak mengambil alih peran guru. Mereka hadir sebagai pembimbing di asrama agar para siswa merasa aman, nyaman, dan lebih siap menjalani kehidupan sehari-hari di Sekolah Rakyat.

Menurut Agus Jabo, program ini berlaku mulai 3 hingga 8 Agustus 2026. Selama masa itu, para taruna akan memberi pendampingan langsung kepada siswa dalam aktivitas dasar yang sering dilakukan di asrama.

Ia menjelaskan bahwa pelibatan taruna bertujuan membantu anak-anak membangun kebiasaan mandiri sejak awal. Kegiatan yang dibimbing mencakup merapikan tempat tidur, menata lemari, dan menjaga kerapian seragam.

Mencegah kekerasan di lingkungan berasrama

Selain soal kemandirian, pendampingan ini juga diarahkan untuk menciptakan suasana asrama yang aman. Agus Jabo menyebut taruna akan ikut membina siswa agar tidak muncul kekerasan, termasuk perundungan maupun tindakan dari kakak kelas kepada adik kelas.

Pendekatan itu dinilai penting karena para siswa harus tinggal bersama teman-teman baru dalam sistem berasrama. Dengan bimbingan intensif, pemerintah berharap proses adaptasi berjalan lebih tenang dan tidak menimbulkan tekanan berlebih bagi anak-anak.

Dasar hukum dan alasan pemilihan taruna

Program ini memiliki dasar hukum yang jelas melalui Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrim. Dasar itu menjadi acuan bagi pelibatan berbagai pihak dalam mendukung pembinaan siswa Sekolah Rakyat.

Pemilihan taruna Akmil juga tidak dilakukan tanpa alasan. Pengalaman mereka hidup dalam lingkungan asrama dinilai relevan untuk ditularkan kepada siswa, sehingga proses pendampingan bisa lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari anak-anak.

Setiap titik Sekolah Rakyat akan mendapat lima personel taruna yang bekerja secara intensif. Mereka akan membimbing siswa dalam keterampilan praktis seperti menyetrika seragam, merapikan seprei dan lemari pakaian, menyemir sepatu, hingga membangun kebiasaan hidup mandiri di asrama.

Source: www.suara.com

Terkait