
Kementerian Perhubungan bergerak cepat menangani antrean kendaraan di lintas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk yang padat menjelang Lebaran. Titik ini menjadi salah satu simpul paling krusial dalam arus mudik karena menampung pergerakan kendaraan dari Jawa menuju Bali dan sebaliknya.
Antrean mulai menumpuk sejak Sabtu dan sempat mencapai sekitar 37 kilometer. Dalam beberapa hari berikutnya, kepadatan berangsur turun setelah pemerintah pusat bersama operator pelabuhan, kepolisian, dan ASDP mempercepat penguraian arus kendaraan di lapangan.
Kondisi lapangan berubah cepat
Pada Senin, antrean berhasil ditekan menjadi sekitar 28 kilometer, meski tekanan kendaraan masih tinggi dari dua sisi. Kepadatan terjadi baik di Ketapang maupun Gilimanuk karena volume kendaraan terus berdatangan sementara kapasitas layanan penyeberangan belum sepenuhnya seimbang dengan lonjakan permintaan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi turun langsung ke lapangan pada Selasa untuk memantau kondisi terkini. Di Gilimanuk, antrean kendaraan masih berada di kisaran 20 sampai 25 kilometer saat penanganan diperkuat.
"Momentum penanganan ini sangat penting agar kepadatan tidak terus menumpuk," ujar Dudy dalam keterangannya. Ia menegaskan, seluruh langkah percepatan harus berjalan terkoordinasi agar mobilitas masyarakat tetap terjaga.
Mengapa jalur Ketapang–Gilimanuk jadi sorotan
Rute ini memegang peran strategis karena menjadi penghubung utama penyeberangan Jawa–Bali. Di masa mudik, sedikit gangguan di jalur ini dapat memicu efek berantai terhadap arus kendaraan di kedua sisi pelabuhan.
Situasi menjadi lebih sensitif karena operasional penyeberangan dijadwalkan dihentikan sementara pada 19 Maret untuk penghormatan Hari Raya Nyepi. Artinya, waktu untuk mengurangi antrean sebelum penutupan layanan berlangsung sangat terbatas.
Langkah yang diterapkan di lapangan
Kemenhub dan instansi terkait menjalankan sejumlah strategi untuk mempercepat pergerakan kendaraan. Langkah ini dilakukan bersamaan agar tidak terjadi penumpukan baru di kawasan pelabuhan maupun jalan akses menuju dermaga.
- Optimalisasi buffer zone untuk menampung kendaraan yang menunggu giliran.
- Percepatan proses tiba–bongkar–berangkat atau TBB agar kapal lebih cepat kembali melayani penyeberangan.
- Pengoperasian kapal berkapasitas besar, termasuk KMP Prima Nusantara.
- Rekayasa lalu lintas di jalur menuju pelabuhan bersama kepolisian.
- Konsolidasi petugas teknis, operator pelabuhan, dan ASDP untuk mempercepat koordinasi operasional.
Pendekatan terpadu itu menunjukkan bahwa penanganan tidak hanya bergantung pada satu titik layanan. Pengaturan arus di jalan akses, kesiapan dermaga, dan manajemen antrean kendaraan harus bergerak serempak agar penumpukan bisa dipangkas.
Antrean turun tajam dalam waktu singkat
Hasil awal penanganan terlihat pada Selasa sore. Antrean kendaraan berhasil ditekan menjadi sekitar 9 kilometer, padahal sebelumnya masih berada di level puluhan kilometer.
Pada Rabu, kondisi kembali membaik dan antrean tinggal sekitar 1 kilometer. Arus penyeberangan di Pelabuhan Ketapang maupun Gilimanuk kemudian dilaporkan kembali normal dan berjalan lancar.
Perbaikan cepat ini juga tidak lepas dari dukungan masyarakat yang tetap mengikuti arahan petugas selama proses penguraian berlangsung. Kemenhub menilai disiplin pengguna jasa membantu menjaga kelancaran pengaturan lalu lintas di area pelabuhan.
Pemantauan masih berlanjut
Sebelum memimpin penanganan di Bali, Menhub bertolak dari Jakarta dengan pesawat kalibrasi milik Kemenhub yang dioperasikan Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan. Mobilitas cepat ini dilakukan karena agenda pengawasan arus mudik dan kesiapsiagaan transportasi padat dalam waktu yang berdekatan.
Kemenhub menyatakan pemantauan dan evaluasi akan terus dilakukan di titik-titik rawan, termasuk lintas penyeberangan utama yang kerap menjadi penentu kelancaran arus mudik dan arus balik. Fokus pengawasan diarahkan pada kesiapan kapal, pengaturan antrean, serta koordinasi antarlembaga agar gangguan serupa bisa ditangani lebih cepat jika kembali muncul.









