Penjualan Toyota Tergelincir, Timur Tengah Anjlok Hampir Sepertiga di Maret 2026

Toyota Motor Corp mencatat penjualan global yang kembali melemah pada Maret 2026. Penurunan itu terjadi selama dua bulan berturut-turut dan terutama dipicu oleh lesunya pasar Timur Tengah serta transisi model pada SUV RAV4.

Berdasarkan data yang dirilis pada Senin 27 April, total penjualan kendaraan global Toyota, termasuk Lexus, turun 7,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 897.871 unit. Pelemahan juga terlihat di dua pasar besarnya, yaitu Jepang dan luar negeri, dengan penjualan domestik anjlok 7,8 persen dan pasar luar negeri turun 7,2 persen.

Timur Tengah jadi sorotan utama

Penurunan paling tajam terjadi di Timur Tengah. Toyota mencatat penjualan di kawasan itu merosot hampir sepertiga atau sekitar 33 persen pada Maret, dengan total sekitar 34.000 unit.

Toyota tidak menjelaskan secara rinci penyebab turunnya permintaan di kawasan tersebut. Namun, kondisi itu sejalan dengan gambaran yang lebih luas di industri otomotif, ketika sejumlah produsen melihat pasar Timur Tengah melemah akibat konflik regional yang mengganggu jalur pengiriman melalui Selat Hormuz dan menekan aktivitas ekonomi.

Situasi itu menunjukkan bahwa pasar regional masih sangat sensitif terhadap gangguan geopolitik. Bagi produsen otomotif global, stabilitas distribusi dan pergerakan barang menjadi faktor penting dalam menjaga volume penjualan.

Pasar besar lain ikut melemah

Tekanan penjualan Toyota tidak hanya datang dari Timur Tengah. Di Amerika Serikat, penjualan turun 8,5 persen, sementara China mencatat penurunan 8,0 persen.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelemahan permintaan terjadi di berbagai wilayah sekaligus, bukan hanya pada satu pasar tertentu. Dalam laporan yang sama, Toyota tetap menghadapi tantangan untuk menjaga momentum penjualan di tengah perubahan permintaan konsumen di sejumlah negara utama.

Dampak transisi RAV4

Selain faktor eksternal, Toyota juga menghadapi dampak internal dari peralihan model RAV4. Perusahaan menyebut penjualan ikut terdorong turun karena produksi bergeser dari model lama ke versi terbaru SUV andalan tersebut.

RAV4 selama ini menjadi salah satu model terlaris Toyota di pasar global. Karena itu, setiap perubahan generasi atau transisi produksi dapat memengaruhi ketersediaan stok dan ritme pengiriman ke konsumen.

Gangguan semacam ini lazim terjadi dalam industri otomotif ketika produsen menyesuaikan jalur produksi. Dalam kasus Toyota, efeknya terlihat jelas pada data pengiriman global bulan Maret yang turun meski permintaan pasar secara umum disebut tetap stabil.

Produksi justru naik

Berbeda dengan penjualan, produksi global Toyota pada Maret justru tumbuh 2,1 persen. Kenaikan terbesar terjadi di Amerika Serikat yang naik 4,9 persen dan China yang naik 7,7 persen.

Di Jepang, produksi Toyota malah turun 3,3 persen. Perbedaan arah antara produksi dan penjualan ini menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu menjaga output, tetapi distribusi ke pasar belum sepenuhnya mengikuti laju produksi di semua wilayah.

Data tersebut menegaskan bahwa tantangan Toyota saat ini bukan hanya soal kapasitas produksi, melainkan juga ketidakseimbangan permintaan antarwilayah. Di tengah tekanan dari Timur Tengah, Amerika Serikat, dan China, perusahaan masih harus menata ulang strategi pasokan agar transisi RAV4 tidak semakin membebani penjualan global.

Terkait