Aceh Tamiang masih mengalami krisis air bersih pasca banjir besar yang melanda wilayah tersebut hampir dua bulan lalu. Kondisi ini dirasakan hampir di seluruh kecamatan, termasuk di ibukota Kabupaten Aceh Tamiang, Kuala Simpang, yang hingga kini kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Sumur manual yang biasa digunakan masyarakat banyak yang rusak parah atau tertimbun lumpur dan sampah sisa banjir. Sementara itu, distribusi air PDAM terhenti akibat jaringan pipa yang patah dan rusak, sehingga hanya sebagian rumah saja yang masih mendapatkan aliran air bersih dari jaringan tersebut.
Kondisi Krisis Air Bersih di Berbagai Kecamatan
Di kecamatan Karang Baru, yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang, kesulitan memperoleh air bersih juga sangat dirasakan. Banyak warga terpaksa menampung air hujan atau mengambil air dari sumur bekas terendam banjir yang sudah disaring dan diendapkan untuk menghilangkan bau dan kotoran.
Lebih parah lagi kondisi di Kecamatan Sekrak dan Bandar Pusaka, di mana sebagian besar warga masih mengandalkan sumur yang sudah tercemar. Air dari sumur tersebut sering berbau tidak sedap dan tidak layak konsumsi tanpa proses penyaringan dan pengendapan.
Upaya Relawan Mempercepat Pembangunan Sumur Bor
Menanggapi situasi darurat ini, relawan Komunitas Weekdays Adventure Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Offroad Federation (IOF) dari Jakarta mulai bergerak membantu warga dengan membangun sumur bor di daerah pedalaman. Desa Babo di Kecamatan Bandar Pusaka menjadi salah satu lokasi prioritas karena aksesnya yang sulit dan minim perhatian dari pihak terkait.
Jenis sumur bor yang akan dibangun bervariasi, mulai dari kedalaman 10-12 meter dengan biaya sekitar Rp 6 juta per unit, hingga sumur yang lebih dalam mencapai 60-70 meter dengan estimasi biaya Rp 20 juta per unit. Relawan menargetkan pembangunan sumur bor tersebut selesai sebelum bulan Ramadan agar warga dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman dan layak.
Asep Sukana, relawan dari Weekdays Adventure Indonesia, menegaskan bahwa mereka berupaya mempercepat proses pembangunan sumur meskipun medan sulit dan terkadang harus bermalam di masjid demi memaksimalkan kerja di lapangan. Mereka sedang menunggu pasokan peralatan yang akan langsung digunakan begitu tiba di lokasi.
Kolaborasi Antarlembaga untuk Penanganan Bencana
Proyek pembangunan sumur bor ini berjalan berkat kerja sama dengan lembaga Pondok Sedekah Bekasi dari Jawa Barat serta dukungan pelayanan medis dari Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Sinergi tersebut memungkinkan penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan memberikan dampak nyata di tengah warga penyintas banjir.
Selain sumur bor, relawan juga menyalurkan berbagai bantuan lain seperti fasilitas MCK darurat, genset listrik, lampu penerangan, layanan kesehatan, perlengkapan belajar mengajar untuk sekolah darurat, serta perbaikan sarana ibadah dan perlengkapan masak. Donasi berasal dari sedekah pribadi dan sejumlah organisasi swasta yang peduli terhadap pemulihan pasca bencana di Aceh Tamiang.
Pengalaman berkendara 4×4 dalam medan berat juga membantu relawan menjangkau kampung-kampung terpencil. Hal ini memberi harapan kepada masyarakat setempat bahwa masih ada pihak yang peduli dan siap mendukung mereka melewati masa sulit akibat dampak banjir besar.
Dengan berbagai upaya relawan dan kolaborasi berbagai pihak ini, diharapkan krisis air bersih di Aceh Tamiang dapat segera teratasi. Penyediaan sumur bor praktis menjadi solusi penting untuk mendukung kebutuhan dasar air bersih sekaligus mempercepat proses pemulihan kehidupan warga pascabanjir.
