Keraton Yogyakarta kembali menggelar tradisi Mubeng Beteng untuk memperingati malam 1 Suro pada Selasa (16/6) malam hingga Rabu (17/6) dini hari. Tradisi tahunan ini menjadi bagian dari Hajad Kawula Dalem yang diprakarsai Paguyuban Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan terbuka bagi masyarakat umum.
Prosesi tersebut dipandang sebagai ruang refleksi bersama untuk menyambut tahun baru Jawa. Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumanegara, mengatakan, “Kami menyatukan rasa untuk melakukan refleksi bersama demi menyambut tahun baru yang lebih baik.”
Rangkaian awal dimulai dari pembacaan macapat
Kusumanegara menjelaskan rangkaian acara diawali dengan pembacaan macapat di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti pada pukul 21.00 WIB. Agenda ini menjadi pengantar doa dan refleksi menjelang pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.
Pembacaan macapat dijadwalkan berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. Setelah itu, peserta bersiap menjalani tapa bisu atau perjalanan hening yang menjadi inti prosesi Mubeng Beteng.
Tapa bisu mengelilingi benteng keraton
Menjelang tengah malam, peserta berjalan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dalam suasana hening. Prosesi ini dimaknai sebagai laku prihatin, introspeksi diri, dan bentuk penyambutan tahun baru Jawa.
Melalui akun Instagram @kratonjogja, peringatan 1 Suro disebut sebagai momentum reflektif dan kontemplatif bagi masyarakat Jawa. Bulan Suro yang menjadi bulan pertama dalam Kalender Jawa Sultanagungan juga dipandang sebagai waktu yang tepat untuk pembersihan diri.
Imbauan busana dan ketertiban peserta
Keraton Yogyakarta mengimbau peserta mengenakan busana yang selaras dengan nilai budaya yang dibawa dalam tradisi ini. Untuk abdi dalem, Keraton meminta penggunaan busana pranakan dan kebaya jangkep.
Bagi masyarakat umum, pakaian bebas diperbolehkan selama tetap rapi, sopan, dan nyaman. Keraton juga meminta peserta tidak memakai celana pendek serta menjaga ketertiban dan suasana khidmat selama prosesi berlangsung.
Rangkaian kegiatan peringatan malam 1 Sura
Selain Mubeng Beteng, peringatan malam 1 Sura di Keraton Yogyakarta juga diisi dengan sejumlah agenda budaya lain. Berikut rangkaiannya:
- Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji Lampahan “Jaya Berdangga”
- Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng
- Hajad Dalem Jamasan Pusaka dan Rata
Dalam beberapa tahun terakhir, pelaksanaan tradisi ini juga mendapat fasilitasi dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran masyarakat umum menunjukkan bahwa Mubeng Beteng tetap menjadi ruang budaya yang hidup, sekaligus sarana bersama untuk memasuki tahun baru Jawa dengan suasana yang tertib dan penuh makna.
