Presidium Relawan, Mitra, dan Simpatisan Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menggelar aksi unjuk rasa bertajuk Parade Nasional di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Aksi ini disebut akan membawa dukungan terhadap keberlanjutan program MBG sekaligus mendorong pembenahan tata kelola di Badan Gizi Nasional (BGN).
Koordinator Aksi Presidium Relawan, Mitra, dan Simpatisan MBG, Ahmad Yazdi, mengatakan gerakan ini lahir dari penyatuan relawan, mitra, dan simpatisan yang menilai program makan bergizi masih dibutuhkan masyarakat. Ia menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Massa datang dari berbagai daerah
Aksi di Patung Kuda itu akan melibatkan relawan, pekerja dapur, pemasok bahan pangan, hingga petani dari berbagai wilayah. Peserta disebut berasal dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi, hingga Aceh.
Relawan dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T yang berada di Jakarta juga disebut ikut terlibat. Presidium mengklaim aksi ini bakal diikuti 1 juta massa dari berbagai latar belakang.
Empat tuntutan yang dibawa
Dalam aksi tersebut, presidium menyiapkan empat tuntutan utama kepada pemerintah dan lembaga terkait. Tuntutan itu menyoroti keberlanjutan program, komunikasi antar pemangku kepentingan, percepatan layanan di daerah 3T, serta kebutuhan payung hukum yang lebih kuat.
Berikut isi tuntutannya:
- Mendukung keberlanjutan Program MBG sebagai bagian dari upaya mewujudkan Generasi Emas 2045 dan pemerataan ekonomi kerakyatan.
- Meminta pimpinan BGN memfasilitasi forum diskusi bersama seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan program.
- Mendorong percepatan operasional dapur SPPG di wilayah 3T sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
- Meminta DPR RI segera menyusun undang-undang yang mengatur pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar memiliki kepastian hukum.
Yazdi menegaskan bahwa program sebesar MBG membutuhkan dasar hukum yang jelas. Menurut dia, kepastian hukum akan membuat pengelolaan program lebih transparan dan memberi kejelasan bagi semua pihak yang terlibat.
Sikap panitia soal tudingan massa bayaran
Menjawab isu soal kemungkinan adanya massa bayaran, Yazdi menyebut bantuan transportasi bagi peserta merupakan bentuk fasilitasi dari para mitra. Ia menekankan bahwa banyak peserta datang dari luar daerah dan kehadiran mereka didorong oleh keinginan menyuarakan keberlanjutan program.
“Kalau mereka membutuhkan biaya transportasi, tentu itu menjadi bagian dari dukungan mitra,” kata Yazdi. Ia juga menambahkan bahwa peserta hadir bukan karena dipaksa, melainkan karena ingin menunjukkan dukungan terhadap MBG.
Sorotan pada pelaksanaan program di lapangan
Di tengah berbagai kritik yang sempat muncul, Yazdi meminta publik tidak hanya melihat persoalan yang viral. Ia menilai masih banyak dapur MBG yang bekerja baik setiap hari dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, kerja dapur yang berjalan lancar dan dampaknya bagi anak-anak Indonesia juga perlu mendapat perhatian. Dalam pandangan presidium, keberhasilan di lapangan tetap penting dicatat bersamaan dengan evaluasi terhadap kekurangan yang ada.
Source: www.suara.com






