IHSG menutup perdagangan dengan penguatan 0,69 persen ke level 5.916, meski investor asing masih mencatatkan jual bersih di pasar reguler. Di tengah kondisi itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru menjadi yang paling banyak diborong asing, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berada di daftar pelepasan terbesar.
Data Phillip Sekuritas Indonesia menunjukkan net sell asing di pasar reguler mencapai Rp163,01 miliar pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026. Secara akumulatif sejak awal tahun, nilai jual bersih investor asing sudah menembus Rp89,07 triliun.
Pergerakan IHSG tetap solid
Penguatan IHSG tercatat sebesar 40,28 poin dan ditopang aktivitas perdagangan yang cukup tinggi. Volume transaksi mencapai 19,831 miliar saham dengan nilai Rp9,50 triliun, sementara kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia berada di level Rp10.378 triliun.
Sebanyak 386 saham ditutup menguat, 242 saham melemah, dan sisanya stagnan. Kenaikan indeks didukung oleh sektor energi, keuangan, dan basic materials yang sama-sama bergerak positif pada akhir perdagangan.
BBCA jadi incaran asing
Di tengah arus keluar modal asing, BBCA mencatat net buy terbesar dengan nilai Rp168,12 miliar. Setelah itu, investor asing juga masuk ke saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp110,08 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp59,01 miliar.
Minat beli asing juga terlihat pada PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) senilai Rp56,24 miliar dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) sebesar Rp19,92 miliar. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan jual asing tidak merata karena sebagian saham besar masih menarik perhatian investor luar negeri.
BMRI paling banyak dilepas
Sebaliknya, BMRI menjadi saham dengan net sell asing terbesar pada perdagangan tersebut, yakni Rp85,96 miliar. Di bawahnya ada PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebesar Rp82,73 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp78,10 miliar.
Pelepasan juga terjadi pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp42,16 miliar dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) senilai Rp41,21 miliar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sektor perbankan dan sejumlah saham berkapitalisasi besar tetap berada dalam radar transaksi aktif investor asing.
Saham yang paling bergerak
Di jajaran saham dengan kenaikan terbesar, DCII naik 4,83 persen ke Rp198.950 dan MPRO menguat 5,56 persen ke Rp9.500. YUPI mencatat lonjakan paling tinggi di daftar tersebut dengan kenaikan 24,90 persen ke Rp1.530.
Sementara itu, saham yang terkoreksi paling dalam dipimpin FORU yang turun 15,00 persen ke Rp2.890. Di daftar pelemahan juga ada DNET yang turun 4,83 persen ke Rp9.350, UNIC melemah 3,35 persen ke Rp12.275, BINA turun 7,05 persen ke Rp3.690, serta MLPT yang terkoreksi 1,37 persen ke Rp18.025.
Daftar 5 saham paling banyak dibeli asing
- BBCA: Rp168,12 miliar
- TPIA: Rp110,08 miliar
- BBRI: Rp59,01 miliar
- BUVA: Rp56,24 miliar
- RAJA: Rp19,92 miliar
Daftar 5 saham paling banyak dijual asing
- BMRI: Rp85,96 miliar
- MAPI: Rp82,73 miliar
- AMMN: Rp78,10 miliar
- BREN: Rp42,16 miliar
- TLKM: Rp41,21 miliar
Pergerakan ini menegaskan bahwa penguatan IHSG tidak selalu sejalan dengan arus dana asing, karena investor global masih selektif dalam memilih saham. BBCA dan BBRI mendapat aliran beli, sementara BMRI justru menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas pada perdagangan yang sama.
Source: www.suara.com






