Advokasi pendidikan di Wonokusumo membuahkan hasil konkret bagi dua anak yatim yang sempat terancam putus sekolah. Melalui pendampingan langsung, mereka kini bisa melanjutkan pendidikan tanpa beban biaya pendaftaran, uang gedung, dan SPP bulanan sesuai ketentuan sekolah.
Kasus ini berawal dari temuan petugas BPS yang kemudian ditindaklanjuti oleh Staf Khusus Anggota Komisi X DPR RI Reni Astuti, Abah Lila. Dua anak di kawasan Wonokusumo Bakti, Surabaya, diketahui telah ditinggalkan oleh ibunya dan tinggal bersama paman yang juga kesulitan ekonomi.
Solusi dari koordinasi sekolah
Abah Lila kemudian membangun komunikasi dengan SMP PGRI 6 Surabaya dan SMKS Arif Rahman Hakim Surabaya. Koordinasi itu menghasilkan kebijakan pembebasan biaya yang menjadi jalan bagi keduanya untuk tetap bersekolah.
Kebijakan tersebut mencakup pembebasan biaya pendaftaran, uang gedung, dan SPP bulanan sesuai ketentuan masing-masing sekolah. Langkah ini menghapus hambatan utama yang sempat mengancam keberlanjutan pendidikan kedua anak tersebut.
Komitmen zero case putus sekolah
Abah Lila menyebut advokasi ini sebagai bagian dari komitmen mengawal pemenuhan hak pendidikan yang menjadi perhatian Komisi X DPR RI. Ia menegaskan bahwa persoalan ekonomi tidak boleh menjadi alasan anak kehilangan kesempatan belajar.
“Semangat kami adalah Zero Case Putus Sekolah. Selama masih ada anak yang ingin belajar, kita harus berikhtiar menghadirkan solusi. Pendidikan adalah hak anak bangsa dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya,” tegasnya.
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk menyelesaikan persoalan pendidikan. Pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, hingga dunia usaha dinilai harus bergerak bersama agar kasus anak putus sekolah bisa ditekan.
Dorongan untuk akses pendidikan yang setara
Kasus dua anak yatim di Surabaya itu menunjukkan bahwa solusi pendidikan bisa lahir saat berbagai pihak bergerak cepat. Peran wakil rakyat, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga agar anak-anak tetap berada di bangku pendidikan.
Langkah ini juga sejalan dengan semangat pemerataan akses pendidikan dan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai investasi jangka panjang bagi bangsa. Bagi dua anak di Wonokusumo Bakti, solusi itu berarti satu hal penting: tetap bisa sekolah tanpa beban biaya yang selama ini menghambat mereka.
Source: kabarjawatimur.com






